HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
SUDAH DANGKAL: Sungai Heisero di Kecamatan Panjatan yang sering meluap. Sungai ini sudah sangat mendesak untuk dilakukan normalisasi. Salah seorang warga menunjukkan kondisi sungai, kemarin (27/4).
KULONPROGO – Banjir besar yang melanda hampir semua wilayah di Kecamatan Panjatan menjadi semacam tanda atau desakan proses normalisasi sungai Heisero harus dilaksanakan. Pasalnya, sedimentasi di sungai tersebut sudah cukup tebal sehingga perlu dilakukan pengerukan.
“Banjir yang terjadi akhir pekan lalu menjadi penguat bahwa normalisasi sungai Heisero memang harus segera dilakukan. Akan dimulai tahun ini, karena proses lelang sudah dilakukan bahkan rekanan pemenangnya juga sudah ada,” jelas Camat Panjatan Sudarmanto, kemarin (27/4).
Sudarmanto menjelaskan, Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) selaku pemangku kewenangan sungai juga sudah melakukan sosialiasi kepada masyarakat terkait normalisasi. Tahun ini normalisasi akan dilakukan mulai Nagung hingga Buk Bugel atau Bulak Krembangan) yang berjarak tiga kilometer.
“BBWSSO tahun ini akan melakukan pengerukan sedimentasi di sungau Heisero hingga Buk Bugel sejauh tiga kilometer. Sosialisasi terkait normalisasi ini sudah dilakukan sejak 14 April lalu,” jelasnya.
Terpisah, Kepala BPBD Kulonprogo Untung Waluyo menyatakan, cepatnya proses penanganab bencana banjir dan longsor menjadi bukti masing-masing instasi terkait mampu bekerja kompak. Melalui rapat koordinasi penanganan bencana secara terpadu telah dilakukan dan berlangsung baik dan maksimal. Seperti sekolah-sekolah yang tergenang banjir, sudah diprioritaskan oleh dinas pendidikan sehingga kegiatan belajar mengajar (KBM) bisa kembali berjalan lancar.
Begitu pula dinas pengairan mengurus irigasi yang jebol, sedangkan dinas pertanian mendata area persawahan yang rusak. Hasilnya, data total luasan sawah yang sempat terendam banjir mencapai 1.816 hektare, meliputi tujuh kecamatan. Yakni Kecamatan Lendah, Sentolo, Galur, Panjatan, Wates, Temon, dan Pengasih.
“Berdasarkan laporan, dampak banjir terparah terjadi di Kecamatan Panjatan, dampak terparah di enam desa bahkan sempat menggenangi 726 keluarga dan ratusan hektare sawah,” jelas Untung.
Sementara itu, banjir yang melanda tujuh Kecamatan di Kulonprogo kini menyisakan lumpur dan sampah. Lumpur sisa genangan air tidak hanya menjadi pemandangan di permukiman warga, tetapi juga di kompleks sekolahan.
Senin (27/4) kemarin, sejumlah sekolah yang terdampak banjir mengarahkan siswanya untuk kerja bakti membantu membersihkan sekolah. Mulai dari mengepel ruang kelas hingga menjemur buku-buku pelajaran yang sempat basah terendam banjir yang terjadi sejak Jumat (24/4) petang.
Salah satunya seperti di SDN Banasara Lendah, SD ini sempat terendam banjir setinggi pinggang orang dewasa. Bahkan Sabtu (25/4) lalu, pihak sekolah terpaksa meliburkan siswanya karena tidak memungkinkan untuk belajar mengajar. Hal serupa juga terjadi di SD Sungapan Galur, guru dan siswa juga melakukan bersih-bersih sekolah. (tom/ila/mga)