Cahyadi Joko Sukmono

BERSIAP HADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang mengintegrasikan negara-negara di wilayah Asia Tenggara menjadi sebuah tantangan besar. MEA merupakan wujud realisasi dari tujuan akhir integrasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Dalam menghadapinya, tentu harus dilakukan oleh berbagai elemen.
TIDAK hanya pemerintah saja yang menyiapkan diri dengan kebijakan yang dikeluarkan. Namun masyarakat, ter-utama bagi pelaku bisnis harus bisa menyusun strategi untuk menghadapi persaingan yang diperkirakan akan semakin ketat.Secara indinvidu kesiapan matang perlu dilakukan masyarakat untuk menghadapi persaingan ini. Di sisi lain pemerintah sebagai pemegang kebijakan perlu mengawal regulasi yang melindungi masyarakat.”Tantangan serius MEA bagi kita adalah sinkronisasi regulasi yang mendukung Usaha Kecil Menengah (UKM). Bagaimana meningkatkan pangsa ekspor maupun untuk bersaing di dalam negeri,” kata Senior Consultant Forbiz Indonesia Cahyadi Joko Sukmono dihubungi baru-baru ini (23/4).
Selanjutnya, mendorong agar pasar mampu berpihak pada produk dalam negeri. Ini karena arus eknomi terbuka sangat terasa MEA. Begitu juga persaingan yang timbul dalam penerapan MEA sehingga perlu meningkatkan kualitas dan regulasi.Menurut Cahyadi, perkembangan pasar Indonesia di ASEAN sendiri tergolong besar. Ini karena dominasi sebesar 43,7 persen pasar ASEAN ada di Indonesia. Di sisi lain, standardisasi dan perizinan, selama ini masih menjadi beban berat bagi pelaku usaha yang ingin masuk pasar global.”Langkah konkret yang bisa dilakukan dengan mendorong UKM me-ningkatkan daya saing dan produktivitas. Caranya, dengan memfasilitasi aspek produktivitas dan dukungan regulasi,” ungkap pria yang men-jabat sebagai Sekjen Asosiasi Business Development Service (BDS) Indonesia ini.Sementara itu, dalam MEA 2015 ada empat hal yang akan menjadi fokus, di mana ini dapat menjadi momentum baik untuk Indonesia.
Pertama, negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis produksi. Hal ini akan membuat arus terbuka dan tidak ada hambatan. Terutama arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan tenaga ahli di kawasan Asia Tenggara.Kedua, MEA akan dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi yang tinggi. Dalam hal ini memerlukan suatu kebijakan yang meliputi peraturan dalam bersaing, perlindungan konsumen, hak cipta intelektual, pajak dan e-commerce. Tujuannya menciptakan iklim persaingan yang adil, menghilangkan sistem double taxation, dan meningkatkan perdagangan dengan media elektronik berbasis online.Ketiga, MEA wujud perkembangan ekonomi yang merata dengan mem-prioritaskan pada UKM.Keempat, MEA akan diintegrasikan secara penuh ter-hadap perekonomian global. Dengan membangun sebuah sistem untuk meningkatkan koordinasi terhadap negara-negara anggota. “Memang bisa memperkecil ke-senjangan antara negara-negara ASEAN. Tapi juga perlu regulasi yang kuat terutama yang dikeluarkan oleh pemerintah. Jangan sampai arus ekonomi dari luar kencang tapi dapat mematikan kekuatan dalam negeri,” kata Cahyadi.Dampak postif juga terlihat dari meningkatkan ekspor yang berimbas pada kenaikan Gross National Product (GDP) bagi Indonesia. Tantangan lainnya adalah mengubah homogenitas komoditas yang diperjualbelikan. Tujuannya meng-hadapi banyaknya barang impor yang akan masuk ke Indonesia.
Menurutnya, pada intinya harus siap menghadapi persaingan. Jika tidak, tentu-nya justru akan tertinggal menghadapi persaingan terbuka ini. Pelaku usaha diimbau meningkatkan kompetensi dan kualitas produksi. “Lalu adapula kolaborasi yang perlu diwujudkan antara otoritas negara dan para pelaku usaha. Bisa dari infrastrukur secara fisik dan social, hukum dan kebijakan perlu dibenahi. sampai Indonesia hanya menjadi penonton di negara sendiri,” tutupnya. (dwi/ila/ong)