DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
MENANTANG : Seorang pembalap sedang melintas di Trek MTB di Wonogondang, Umbulharjo, Sleman. Lintasan menantang ini gabungan trek alami dan buatan.

Bentukan Alam yang Menantang di Lereng Merapi

 
Jejak-jejak roda sepeda masih tersisa di Trek Wonogondang yang dipakai untuk kejuaraan ASEAN MTB Cup Seri II 2015, yang digelar 24 April hingga 26 April lalu. Apa yang menantang dari trek ini?
DEWI SARMUDYAHSARI, Sleman
UDARA sejuk dan nyaris tanpa po-lusi suara jadi suasana yang nyaman ketika memasuki Bumi Perkemahan Wonogondang, Umbulharjo, Sleman. Di kawasan lereng Merapi inilah trek sepeda gunung atau mountain bike (MTB) dibuat. Memang, trek ini tidak 100 persen hasil karya tangan manusia, melain-kan terbentuk dari porses alami. Trek Wonogondang memiliki lintasan downhill dan cross country. Karena dibuat sebagai lintasan untuk kejua-raan, maka tidak keseluruhan lintasan dibiarkan alami. Mempertimbangkan juga faktor resiko dan keamanan para atlet sepeda. “Makanya sebagian alami dan sebagian buatan, kalau lintasan cross country semua alami. Hanya saja lintasan downhill ada be-berapa yang harus dirubah,”ujar penanggung jawab Trek Wonogon dang Nurwarsito.P
ersiapan trek ini memakan waktu kurang lebih dua bulan. Setelah pro-ses perijinan kepada masyarakat dan pemerintah setempat selesai, proses pembuatan trek pun dimulai. Bahkan untuk pembuatannya sendiri tidak lebih dari satu bulan. Dengan waktu yang terbilang singkat, atlet senior downhill Jogjakarta ini pun ikut mengangkat pacul bersama panitia lokal lainnya. Meski ada beberapa titik lintasan yang harus diberi sentuhan tangan, namun tidak mengurangi alaminya habitat yang ada disekitar. Melewati hutan, melin-tasi sungai, berkelok menyusuri bukit menjadi tantangan alam yang harus dilalui para pesepeda. “Ada beberapa titik yang harus kami buat dua jalur, agar pemula juga bisa melintas, tentu-nya dengan tantangan yang berbeda,” ujar atlet yang berhasil mempertahan-kan gelar juara di seri kedua kemarin.Trek downhill yang berada di lereng Merapi ini dibuat sepanjang 1,6 km dengan tingkat elevasi yang rendah dan 30 hingga 40 persennya pedalling. Untuk jarak lintasan ini, butuh waktu dua menit bagi pesepeda untuk melin-tasi. Ini meruapkan jarak standar lintasan internasional.Menurutnya, beberapa lintasan yang harus dibuat seperti jembatan, ka-rena lintasan juga melewati sungai kecil. Selain itu juga harus menebas pohon. Karena lintasannya yang alami, hujan pun tidak akan mengu-bah tekstur tanah. “Kita juga ijin dulu kepada pemilik pohon, baru kita tebang dan buat lintasan,” ujarnya.
Selain medan tantangan yang ter-cipta alami, pemandangan sekitar juga membuat suasana berbeda bagi para pesepeda saat melintas. Ada adre-nalin dan suguhan alami yang mem-buat sehat raga dan jasmani. “Trek ini sudah memiliki kontrak satu tahun, rencananya setelah ini juga akan di-gunakan untuk Porda,” ujarnya.Menurutnya, Trek Wonogondang ini bisa dijadikan salah satu alterna-tif pilihan, selain trek Turgo. Jika masya rakat menyetujui, trek ini bisa dibuat permanen dan kedepan bisa menjadi sarana wisata adrenalin bagi para pecinta MTB. “Orang yang masuk dikenakan retribusi, jadi trek ini nantinya juga bisa jadi pemasukan daerah,” ujarnya.Sekretaris Umum KONI DIJ KPH Indrokusumo atau yang akrab disapa Kanjeng Indro mengatakan, trek Wo-nogondang ini selain menajdi fasilitas olahraga sepeda juga sebagai penun-jang pariwisata. “Trek ini bisa di-kembangkan menjadi objek wisata minat khusus, sehingga bisa menjadi penunjang pariwisata Jogjakarta. Ka-rena banyak pecinta MTB yang suka mencoba trek-trek baru,”ujarnya.
Atlet downhill Semarang, Nining Purwaningsih mengatakan, trek yang baru saja selesai dibuat ini cukup me-nantang. Karakternya mirip dengan trek Turgo, hanya saja ini lebih banyak pedaling. “Drop-drop pendek juga banyak, menantang juga drop di jem-batan. Tapi secara keseluruhan lumayan menantang dan butuh strategi juga,”ujar pemenang women elite downhill ASEAN MTB Cup Seri II ini.Trek menantang didukung dengan pemandangan yang indah juga dika-gumi oleh atlet cross country asal Fili-pina, Jundeb Andre Esquivel. Menurut-nya, ini trek lereng gunung yang mena-rik, karena mengkomibasikan rintangan dan pemandangan alam. “Ini pertama kalinya saya trek di Indonesia dan trek ini luar biasa bagus,” ujarnya.Juara satu men master A cross coun-try ASEAN MTB Cup Seri II ini me-ngatakan, trek ini selain dijadikan arena kejuaraan juga bisa dijadikan wisata para pecinta sepeda. “Kalau di negara saya ada trek yang menarik, tapi letaknya di pinggir pantai, bukan di gunung seperti ini. Jadi karakternya tetap berbeda,” ujarnya. (*/din/ong)