DWI AGUS/RADAR JOGJA
JOGJA – Peta wayang orang di wilayah Jogjakarta bisa dibilang merata. Namun seiring perkembangan zaman, bibit generasi penerus kesenian tradisi, kurang menunjukkan eksistensinya. Salah satu kelompok yang mencoba merangkak kembali, adalah Paguyuban Wayang Orang Joglo Kawentar.
Paguyuban wayang orang ini berasal dari Desa Semin, Gunungkidul. Joglo Kawentar mendapatkan kesempatan tampil di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Minggu kemarin (26/4). Membawakan lakon Banteng Manduro, para penggawanya tampil maksimal.
“Paguyuban ini sudah ada sejak lama. Di medio tahun 1960-an sempat memasuki masa emasnya. Namun seiring waktu meredup, dan penerusnya beralih profesi. Baru dua tahunan ini kembali dihidupkan,” kata ketua umum Sudiyanto.
Proses regenerasi melalui jalan yang panjang. Di mana wujud-wujud kebaruan mulai dihadirkan dalam paguyuban ini. Termasuk pada gaya dan corak yang kerap ditampilkan saat pentas.
Sudiyanto menjelaskan, era lama, paguyuban ini menerapkan gaya Surakarta. Namun sejak dilahirkan kembali, gaya Jogjakarta mulai diusung. Ini diperkuat setelah Dinas Kebudayaan DIJ mengirimkan pendamping desa budaya.
Namun dalam praktiknya paguyuban ini tidak sepenuhnya meninggalkan gaya Surakarta. Dua gaya Surakarta dan Jogjakarta justru dilebur menjadi satu. Ini untuk mempermudah proses transformasi terutama regenerasi paguyuban ini.
“Tetap mempertahankan gaya tradisi namun mengemas lakon masa kini. Kita tidak memungkiri bahwa budaya Surakarta kental dalam wayang orang ini. Tapi sekarang kita kolaborasikan dua gaya ini dalam pementasan,” ungkapnya.
Untuk lakon, Sudiyanto mengungkapkan perbedaannya. Jika dulu bertahan dengan lakon klasik maka tidak dengan saat ini. Lakon yang diangkat pun cenderung dinamis dengan kondisi saat ini.
Lakon ini menurutnya bercerita tentang melawan angkara murka. Ceritanya pun mengangkat seputar epos Ramayana Mahabarata. Tentunya dengan penyesuaian konsep naskah yang diusung.
“Dengan lakon ini berharap hidup di dunia ini berlaku baik. Menghilangkan sifat dengki termasuk dalam hal tindak tanduk. Untuk penggawa terdiri dari sekitar 60 orang, dengan komposisi pemain muda 60 persen dan sisanya penggawa terdahulu,” pungkasnya. (dwi/jko/mga)