JOGJA – Surat edaran PT Liga Indonesia (PT LI) berisi tentang penundaan kompetisi Divisi Utama (DU) sampai batas waktu yang belum ditentukan menjadi beban bagi klub.
Ketua Umum PSIM Jogja Agung Damar Kusumandaru menilai, surat dari PT LI tersebut bukan solusi yang tepat. Surat tersebut, justru membuat bingung manajamen klub untuk mengambil langkah selanjutnya. “Kami belum bisa memutuskan, karena besok (hari ini, Red) baru akan dirapatkan,” kata Agung kepada Radar Jogja Senin (27/4).
Agung mengatakan, belum bisa mengambil keputusan untuk meliburkan pemain. Sebab, disatu sisi Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang membekukan PSSI, tengah mengadakan pertemuan dengan klub-klub asal ISL. Sehingga, bila Kemenpora memberikan lampu hijau terhadap kompetisi, maka tim harus mempersiapkan diri untuk menghadapi laga.
Sebab seperti diketahui, kegagalan klub menggelar kompetisi DU yang sejatinya dimulai 26 April lalu disebabkan adanya surat edaran Mabes Polri kepada Polda DIJ untuk tidak memberikan izin keramain. Surat edaran pelarangan dari Mabes Polri sendiri beradasarkan permintaan dari Kemenpora.
Agung mengatakan, secara prinsip manajemen klub akan berjalan baik bila kompetisi berjalan seacara reguler. Hanya saja, jika kompetisinya tidak jelas maka manajemen akan mengambil langkah sehat untuk menyelamatkan keberlangsungan tim. “Jalan yang terbaik dengan meliburkan tim,” jelasnya.
Menurutnya, ketika tidak ada kompetisi maka klub tidak ada pemasukan. Sebab tidak ada penjualan tiket. Untuk mengandalkan sponsor, menurutnya sangat sulit sebab klub DU kalah menjual dinandingan klub dari ISL. “Keputusan akhirnya kami tentukan setelah malam ini lewat rapat internal,” jelasnya. (bhn/din/mga)