DWI AGUS/RADAR JOGJA
JIPLAK KARBON: Theresia Agustina Sitompul selalu mengangkat sosok ibu dalam setiap karyanya. Baginya, sosok ibu adalah individu yang kaya makna.

Selalu Angkat Sosok Ibu karena Kaya Makna

 
Theresia Agustina Sitompul mengusung konsep tidak biasa dalam pameran tunggalnya. Bertajuk “Pada Tiap Rumah Hanya Ada Seorang Ibu”, ia menghadirkan puluhan karya dengan teknik jiplak karbon, sebuah teknik yang tidak biasa untuk menghasilkan karya seni.
DWI AGUS, Jogja
TEMBOK Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) menjadi saksi dari keunikan karyanya. Pe-rempuan yang akrab disapa Tere ini mengang-kat sosok ibu dalam setiap karyanya. Ini tercermin melalui objek yang dipilih untuk dikarbonkan.”Objek-objek yang dikarbonkan merupa-kan bentuk simbolik. Menghadirkan pema-haman seorang ibu melalui metafora objek. Bagi saya, sosok ibu adalah individu yang kaya makna,” ungkapnya di sela pameran.Melalui pameran ini, ia merefleksikan ke-beradaan ibu di dalam rumah. Mulai dari kisah-kisah yang menyertainya, hingga tugas seorang ibu. Tere secara cermat menempatkan pengalaman pribadinya ke setiap karya.elain itu, ia juga menghadirkan sosok anak-anaknya. Bahkan bayangan almarhum ibu-nya juga turut mengisi pamerannya ini. S
etiap objek dihadirkan ke dalam media karya dengan teknik karbon.”Seorang anak perempuan kelak pasti juga akan menjadi ibu. Peran ibu saya juga besar untuk membentuk saya saat ini. Lalu saya juga berperan mendidik anak perem-puan untuk menjadi ibu di kemudian hari,” ungkap Pemenang III Trienal Seni Grafis Indonesia ke IV-2012.Untuk teknik karbon, memang tidak bia-sa diaplikasikan ke dalam karya seni
Ini karena karbon identik dengan pekerjaan kantor. Teru-tama untuk duplikasi dalam setiap pencatatan sebuah jurnal. Namun dalam kesempatan ini, Tere secara cerdas mengemasnya menjadi sebuah seni.Melalui teknik ini, Tere mengangkat memori yang tertaut pada figur ibu. Ini diwujudkan melalui mesin jahit tua, gambar tangan yang bergandengan, so-sok perempuan kecil, dan se-jumlah wujud visual lainnya. Di mana setiap objek bermuara pada perenungan tentang peran ibu yang tak tergantikan. “Caranya dengan memanfaat-kan karbon untuk mengeblat barang-barang-barang. Seperti kebaya, rok, kaus, termasuk juga baju-baju anak, dan baju ibu saya. Jadi benda ini dicap dengan hasil cetakan yang lebih kabur,” katanya.Guratan tipis tersebut mampu menguatkan konsep yang diusung. Warna yang tercermin dari setiap karya juga monoton.
Cetakan karbon berwarna biru terlihat menghiasi setiap media kertas. Penataan karya juga kreatif, bah-kan seperti penataan rumah.Selain karya yang dipajang di tembok, ada pula yang ditata layaknya jemuran. Tiga tali pan-jang membentang di ruang pa-mer sisi selatan. Dalam setiap tali ini menggantung beberapa bentuk pakaian.Selain karya grafis, Tere juga menghadirkan wujud karya yang lain. Di ruang tengah pameran tersaji 10 buku bertajuk Coun-sel. Tajuk Counsel ini dibuat berseri dari #1 hingga #10. Di bagian tengah buku ini terlihat berlubang dengan objek yang berbeda.”Melalui pameran ini, saya berharap agar setiap perem-puan memahami bagian terda-lam dari dirinya. Tentunya dengan perspektif yang saya gambarkan melalui karya-karya ini,” jelasnya. (*/jko/ong)