SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
MINTA KEADILAN: Walijan dan Mujinah, orang tua Faqih Amrullah, saat mengadu ke mengadu ke JPW, kemarin (28/4)
JOGJA – Walijan dan Mujinah, orang tua Faqih Amrullah, menuntut keadilan. Mereka me-nilai penanganan perkara terhadap anaknya yang dituduh polisi se-bagai pelaku pembacokan, di-tengarai penuh keganjilan.Saat disidik anggota Polsek De-pok Timur, Sleman, Faqih dike-tahui mengalami serangkaian tindak kekerasan. “Kaki kanan anak saya ditembak sampai enam kaki. Dua peluru bersarang di kakinya. Itu kami ketahui se-telah dioperasi,” tutur Mujinah saat mengadu ke kantor Jogja Police Watch (JPW) Jalan Jeng-gotan, Jogja, kemarin (28/4).
Mujinah tak asal ngomong. Di depan sejumlah wartawan dan pengurus JPW, ia menunjukkan beberapa foto saat anaknya men-galami luka tembak. Diduga pe-nembakan itu dilakukan saat anaknya berada di Mapolsek Depok Timur.”Saat menjalani rekonstruksi, kaki anak saya belum mengalami luka-luka. Ini buktinya,” ungkap Walijan sambil menunjukan foto yang dimaksud kepada wartawan. Melihat luka serius yang dialami anaknya, Walijan dan Mujinah tak tega. Usai menjalani operasi, ia harus mengeluarkan uang se-banyak Rp 5,2 juta. Total biaya operasi mencapai Rp 10 juta.”Sisanya yang membayar dinas (polisi). Operasi dilakukan di RS Bhayangkara. Kalau nggak cepat dioperasi kami khawatir kaki anak saya bisa diamputasi,” ujar Mujinah cemas.
Dari keterangan anaknya, ia mendapatkan penjelasan dip-aksa petugas sebagai pelaku pem-bacokan. Bila tak bersedia menga-ku diancam anggota polisi akan digulung saat berada di Polres Sleman dan Lapas Cebongan.”Kami nggak tahu apa maksud-nya dengan kata digulung itu. Saat menjalani pemeriksaan mata anak saya juga ditutup lakban,” tuturnya.Sejak ditangkap dan ditahan pada 11 Januari 2015 ada be-berapa keterangan soal lokasi penangkapan. Keterangannya satu sama lain berbeda-beda. Faqih mengaku ditangkap po-lisi saat berada di daerah Gond-anglutung, Donoharjo, Sleman. Ia mengaku ditangkap dinihari sekitar pukul 04.00. “Anak dipolo (dihajar) hingga tak sadarkan diri. Tahu-tahu sudah di Mapolsek Depok Timur,” ceritanya.Tentang lokasi penangkapan keterangan berbeda didapat dari anggota Polsek Depok Timur yang mengantarkan surat perin-tah penahanan. Faqih ditangkap di Pendowoharjo, Ngaglik.Lain lagi informasi saat berada di Mapolsek Depok Timur. Muji-nah mendapatkan penjelasan anaknya ditangkap di daerah Tajem, Maguwoharjo, Depok. “Terus terang saya menjadi bertanya-tanya,” ujarnya.
Usai mengadu ke JPW, pasangan Walijan dan Mujinah terus men-datangi Mapolda DIJ. Mereka menyampaikan laporan terkait dugaan pelanggaran dan tindakan tidak profesional anggota Polsek Depok Timur ke Bidang Propam Polda DIJ. “Kami minta kasus ini diusut tuntas. Tuntutan kami ha-nya satu keadilan,” ulang Mujinah. Menanggapi aduan itu, Ketua JPW Asril Sutan Marajo menya-takan, bakal segera melayangkan surat ke Kapolda DIJ Brigjen Pol Erwin Triwanto. JPW mendesak Kapolda menindaklanjuti peng-aduan tersebut”Bila pengaduan itu benar dan terbukti, patut diduga ada pe-langgaran hak asasi manusia dalam penanganan perkara Faqih tersebut,” katanya.
Asril juga menyindir gembar-gembor petinggi Polri bahwa penyidikan dilakukan secara terbuka, akuntabel dan profes-sional tidak dijalankan oleh sa-tuan-satuan di tingkat wilayah. Nyatanya tindak kekerasan ter-hadap mereka yang ditetapkan polisi menjadi tersangka kasus tindak pidana masih saja terjadi. “Belum selesai kasus Maulana di Bantul, sekarang terjadi kasus Faqih di Sleman,” kritik Asril.Di sisi lain, Faqih sejak bebe-rapa waktu lalu telah menjalani persidangan di PN Sleman. Bah-kan Kamis besok (30/4) ia akan diperiksa sebagai terdakwa. Jaksa penuntut umum (JPU) menjerat pria berusia 22 tahun itu dengan pasal 340 junto 338 junto 170 junto 351 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. (**/mar/ila/ong)