JOGJA – Kebutuhan dana tak terduga untuk membiayai perbaikan talud di Kali Code kian mendesak. Tapi, kebutuhan itu tak tercukupi jika hanya menggantungkan dana insidentil dari Dinas Permukiman dan Prasarana Wi-layah (Kimpraswil) Kota Jogja. Padahal, sampai saat ini belum ada peningkatan status tanggap darurat. Alhasil, dana sebesar Rp 5 miliar pun belum bisa dicairkan. “Kami tetap aju-kan dana tak terduga. Karena dana yang kami miliki tetap tak mencukupi,” jelas Kepala Dinas Kimpraswil Kota Jogja Toto Suroto kemarin (28/4).
Toto mengungkapkan, selain mengajukan dana tak terduga, pihaknya juga mengajukan bantuan sharing dari APBD DIJ. “Juga dengan mengoptimalkan APBD Perubahan kalau me-mang tidak sangat mendesak,” imbuhnya.Kepala Bidang Drainase dan Pengairan Di-nas Kimpraswil Kota Jogja Aki Lukman Nur Hakim menerangkan, penanganan semen-tara saat ini masih menggunakan dana insi-dentil. Alokasi yang tersisa mencapai Rp 150 juta dan akan difokuskan untuk penanganan talud di Jagalan Ledoksari Purwokinanti.Sedangkan kerusakan talud di bawah Jemba-tan Juminahan, sudah dialokasikan dalam APBD murni sebesar Rp 71 juta. “Total kerusakan talud ada 12 titik dengan kebutuhan dana Rp 2,7 mi-liar. Pokoknya kami kerjakan dengan dana yang ada dulu. Kalau nanti kurang, bisa melalui pe-rubahan atau dana tak terduga,” imbuhnya.
Kepala BPBD Kota Jogja Agus Winarto menga-ku, untuk mencairkan dana tak terduga kesu-litan. Apalagi pos anggaran tersebut lebih dit-ujukan untuk kegiatan nonfisik. Tapi, saat ini BPBD tengah mengkaji bantuan dari BPBD DIJ.”Saat ini, kami masih melakukan penanga-nan darurat. Dengan membagikan karung guna menahan arus air agar tidak memper-luas kerusakan,” imbuhnya. Anggota Komisi C DPRD Kota Jogja M Fau-zan menjelaskan, proses penanganan kerusa-kan talud harus dipercepat karena sudah mengancam keselamatan warga yang tinggal di bantaran sungai. (eri/laz/ong)