RIZAL SETYO NUGROHO/RADAR JOGJA
PERCAYA DIRI:Sebagian peserta terpilih Dimas Diajeng Cilik Sleman 2015 di Pendopo Sleman, kemarin (28/4). Malam grand final akan diselenggarakan 10 Mei di Auditorium RRI.
SLEMAN- Pemkab Sleman serius mengembangkan potensi anak sejak usia dini. Salah satunya melalui ajang Dimas Diajeng Cilik 2015. Kegiatan yang digelar untuk kali kedua itu tidak hanya sekadar membangkitkan jiwa sosial anak, lebih dari itu juga sebagai sarana edukasi nonakademis. Sedikit berbeda dengan tahun lalu, perhelatan kali ini mengandung nilai plus bagi peserta. Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Endah Sri Widiastuti memastikan, setiap peserta bakal memperoleh poin tambahan secara akademis. Poin ini bisa dimanfaatkan dalam kelanjutan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. “Ini kebijakan baru. Kami telah koordinasi dengan Disdikpora,” ujarnya kemarin (28/4).
Endah menegaskan, ajang tersebut tidak sekadar kegiatan adu tampang. Ada tantangan yang harus diasah oleh para peserta. Selain harus paham tentang budaya dan dunia pariwisata, mereka harus mampu menjadi teladan bagi anak-anak seusianya. “Tentu saja tanpa menghilangkan sisi psikologi sebagai anak-anak,” lanjut mantan Kabag Humas Pemkab Sleman itu.
Ketua Panitia Aryanti Dyah Maharani menambahkan, ada tanggung jawab moral dari penyelenggara kepada para peserta. Bukan semata-mata menjadikan para dimas diajeng sebagai duta wisata. Unsur edukasi tetap ditanamkan dalam setiap tahapan kegiatan ini. Bahkan, peran orang tua peserta turut dilibatkan. Para peserta pun disaring melalui penjaringan yang cukup ketat. Meskipun tidak ada ketentuan peringkat prestasi di kelas. Tetapi, setiap peserta wajib mengumpulkan transkrip nilai dan sertifikat prestasi atau piagam penghargaan yang dimiliki. Bahkan, tutur kata dan tingkah laku sehari-hari juga menjadi sorotan. “Jadi bukan hanya prestasi akademis yang diunggulkan,” ujar alum-nus Sekolah Tinggi MMTC Jogjakarta.Ajang yang harus diikuti para peserta pun selalu dijadwalkan di luar jam pelajaran sekolah. Yakni antara pukul 15.00-17.00. Kecuali Minggu, kegiatan dimulai sejak pukul 08.00. Dengan begitu, setiap tahapan program dimas diajeng cilik tak menyita waktu belajar peserta. “Paling hanya waktu kumpul keluarga yang berkurang. Tapi para orang tua dan sekolah semua mendukung,” klaim diajeng Sleman itu.
Panitia juga menekankan pada orang tua peserta agar turut mengawasi kegiatan. Agar tak ada yang merasa dirugikan dengan ajang tersebut. Sebab, tiap dimas diajeng nantinya akan terikat untuk mengabdi selama dua tahun di dunia pariwisata.Peserta dilatih menari, menyanyi, dan pengembangan bakat pribadi. Nah, saat pelatihan itulah para orang tua dilibatkan. Sambil menunggu anak-anaknya berlatih, mereka diberi materi hipnoterapi tentang mendidik anak yang baik. Salah satu peserta Abiyu Safabakas menuturkan, mulanya keikutsertaanya karena didorong orang tuanya. Namun kini pelajar kelas 4 SD Islam Al Azhar 31 itu senang masuk 30 besar. “Ikut acara ini senang, karena banyak temannya. Juga nambah pede,” ujarnya.
Menurut Abi, mengikuti pemilihan Dimas Diajeng Cilik 2015 menambah pengetahuannya. Karena dia diajari tentang pariwisata, kebudayaan dan seluk-beluk Sleman. “Sesuai slogannya, kenal wisata cinta budaya,” tandasnyaSaat ini sudah terpilih 30 peserta dari i 124 pendaftar. Sebelumnya mereka melewati tes tulis dan tes wawancara. Seleksi yang dilakukan meliputi public speaking & intelejensi, pengetahuan budaya dan pariwisata, psikologi dan unjuk bakat.Selanjutnya dari ke 30 peserta yang ada saat ini, akan diseleksi untuk memperebutkan juara Dimas Diajeng Cilik Sleman 2015. Menurut rencana malam grand final akan diselenggarakan pada tanggal 10 Mei di Auditorium RRI Jogjakarta. (yog/cr3/din/ong)