HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
DAMPAK BANJIR: Areal persawahan di Desa Gotakan, Panjatan yang sempat terendam banjir luapan sungai Heisero. Setidaknya ada ribuan hektare lahan persawahan yang terendam air.
KULONPROGO – Segala upaya dan kerja keras telah dilakukan Pemkab Kulonprogo dalam melak-sanakan penanganan darurat bencana belum lama ini. Salah satunya dengan mengirimkan bantuan kepada para korban, kendati stok logistik terutama beras sempat menipis.Kabid Sosial Dinsosnakertrans Kulonprogo Nur Hadiyanto me-ngatakan, beras menjadi logsitik yang paling penting. Namun ke-tersediaan beras di gudang dinsos sempat menipis. “Beras sempat menipis, yang aman justru mi instan dan lauk,” katanya, Senin (27/4).Hadiyanto menambahkan, stok beras menipis karena memang selama ini hanya distok di tingkat provinsi. Mengatasi hal itu, pemkab memanfaatkan bantuan stok beras dari Bazda dan berkoordinasi dengan BPBD Kulonprogo.
Sementara itu, Bupati Kulonprogo Hasrto Wardoyo mengungkapkan, dia sudah melihat langsung kondisi bencana di lapangan. Mulai dari sawah yang terendam, rumah yang terkena longsor, juga jalan yang sempat tertutup.Data dari dinas pertanian area persawahan yang sempat terendam banjir mencapai 1.816 hektare. Total areal yang terendam berada di tujuh kecamatan yakni Kecamatan Lendah, Sentolo, Galur, Panjatan, Wates, Temon, dan Pengasih.Hasto mengungkapkan, dari semua bencana yang ada, bisa disimpulkan dan dipilah-pilah. Yakni bencana yang tidak terduga termasuk sumbernya tidak bisa diprediksi dan dikendalikan sejak awal. Contohnya banjir karena curah hujan yang kelewat tinggi. “Sawah terendam, jembatan rusak dan itu tentu akan diatasi dengan dana tak terduga baik dari Dinsos dan BPBD yang bisa men-dukung revitaliasi sarana fisik,” ungkapnya.
Kemudian ada juga bencana yang bisa diprediksi atau cukup jelas penyebabnya, dicontohkan gorong-gorong yang rusak, meng-akibatkan air tidak terkontorl akhirnya masuk ke sawah dan pemukiman. Ada juga bencana yang memang dipengaruhi kondisi sosial ekonomi warga.”Seperti rumah roboh misalnya, kebanyakan memang rumah yang tidak layak huni, sehingga saat diterjangan hujan dan angin rentan rusak. Semua itu tetap harus ditangani dengan terpadu semua pihak,” ucapnya. (tom/ila/ong)