SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
TRADISIONAL: GKR Hemas dan cucu, Raden Ajeng Nisaka Irdina Yudanegara, saat mencoba menaiki gerobak sapi di Desa Wisata Sumodaran, Purwomartani, Kalasan, kemarin (29/4).
SLEMAN – Menikmati wisata dengan kereta kuda mungkin sudah biasa ditemui di banyak lokasi wisata. Namun berbeda dengan kendaraan tradisional yang bisa dikendarai di Desa Wisata Sumodaran, Purwomartani, Kalasan. Di sana terdapat kendaraan wisata berupa gerobak kambing dan gerobak sapi.
Kreativitas warga di desa wisata tersebut patut diacungi jempol. Sebab selain mampu berinovasi untuk menarik wisatawan, juga memiliki semangat untuk melestarikan kendaraan tradisional. Penggagas Gerobak Kambing Heru Triyanto mengungkapkan, gerobak sapi dan kambing merupakan kendaraan tradisional yang sudah lama ada. Terutama di sebagian besar pedesaan di wilayah Sleman, termasuk di Desa Sumodaran.
“Gerobak sapi ini biasanya digunakan sebagai angkutan alat pertanian atau hasil panen dari sawah menuju ke rumah petani. Namun keberadaan kendaraan tradisional ini semakin tersingkirkan dan sudah jauh berkurang jumlahnya akibat tergusurnya berbagai kendaraan modern,” terangnya ditemui kemarin (29/4).
Heru menuturkan, keberadaan gerobak sapi ini mampu menawarkan sensasi tersendiri saat mengendarainya. Karena pelan dan santai, sehingga bisa sekaligus menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. “Oleh karena itu, kendaraan tradisional ini juga pas untuk alat transportasi bagi wisatawan yang datang ke desa wisata,” ungkapnya.
Sensasi inilah yang kemudian dimanfaatkan menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke desa tersebut. Dengan kendaraan ini, wisatawan akan diantarkan berkeliling desa setempat. Agar nyaman untuk penumpang, sejumlah modifikasi dilakukan oleh pemilik gerobak, termasuk memasang tempat duduk, tutup atap dan sebagainya.
“Tak hanya gerobak sapi saja, di desa wisata ini pengunjung terutama anak-anak juga bisa menikmati sensasi naik gerobak kambing berbentuk menyerupai gerobak sapi tapi dalam ukuran kecil,” tuturnya.
Heru menjelaskan, gerobak kambing ini berukuran lebih kecil dan dikendalikan oleh anak-anak. Satu gerobak kambing bisa dinaiki hingga lima orang anak. Menurutnya, gerobak kambing ini awalnya dibuat seorang warga karena anaknya ingin mempunyai gerobak sapi namun karena harganya mahal lantas dibuatkan gerobak yang lebih kecil.
“Gerobak kambing dan sapi ini dipilih karena sebagai daya tarik wisata. Juga diharapkan bisa mengangkat kembali keberadaan kendaraan tradisional di wilayah Kalasan dan sekitarnya. Tak hanya itu masyarakat atau pemilik gerobak sapi juga bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari gerobak sapi tersebut,” tutupnya. (sky/ila/mga)