GUNAWAN/RADAR JOGJA
KECEWA: Sejumlah petugas P3N memilih pulang duluan meskipun acara audiensi dengan Kemenag Gunungkidul di kompleks Masjid Al Ikhlas Wonosari belum berakhir, kemarin (29/4)
GUNUNGKIDUL – Acara audiensi yang digelar Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Gunungkidul dengan Pegawai Pembantu Pencatat Nikah (P3N) berakhir antiklimaks, kemarin (29/4). Pasalnya, sebelum acara selesai, ratusan P3N ini meninggalkan lokasi pertemuan.
Kegiatan audiensi tersebut dilatarbelakangi kekecewaan atas munculnya mekanisme pemberhentian tugas secara masal yang dialami oleh P3N di seluruh desa. Rencana awal, pertemuan ini bertujuan mencari solusi sehingga penghapusan P3N tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari.
Pada saat pertemuan sebanyak 144 petugas P3N dari seluruh desa di Gunungkidul hadir. Mayoritas peserta meminta agar pemberitahuan pemberhentian dilakukan secara layak. Selain itu, mereka juga berharap diberi penghargaan atas dedikasi yang dilakukan sejak lama.
Namun kegiatan sosialisasi dengan tema Pembinaan Pegawai Pembantu Petugas Pencatat Nikah berakhir antiklimaks. Seluruh peserta satu persatu meninggalkan lokasi pertemuan dan beranjak pulang, padahal acara belum selesai.
“Wong tuo kok diyem-yemi janji (kami sudah tua kok, hanya dibuat senang dengan janji),” celetuk salah seorang P3N kemudian berlalu pergi.
Petugas P3N yang lain Wagimin juga berharap, janji pemberian penghargaan bisa direalisasikan dan jangan sampai hanya sebatas angin surga. “Saya ikhlas diberhentikan. Hanya saja, kami ingin caranya lebih manusiawi. Kami tidak minta yang muluk-muluk, kalau bisa diberikan apalah sebagai bentuk ucapan terima kasih,” kata Wagimin.
Hal senada juga disuarakan Sudiyono. Mantan Petugas P3NDesa Bandung, Playen ini mengatakan, penghargaan tersebut sangat wajar. Terlebih lagi selama ini kemenag juga tidak memberikan insentif apapun.
Terpisah, Kepala Bidang Urusan Islam dan Pembinaan Syariah Kantor Wilayah Kemenag DIJ Masdjuri menegaskan, tidak ada yang salah dalam pemberhentian P3N. Kebijakan tersebut sudah sesuai dengan aturan yang berlaku. “Mulai tahun ini petugas P3N tidak lagi diperpanjang masa ketugasan,” kata Masdjuri.
Dia menduga, petugas tidak terima diberhentikan karena merasa sudah menjabat sejak lama. Kejadian seperti ini, terjadi karena sejak lama ketugasannya selalu diperpanjang oleh kepala desa. Alhasil, saat ada kebijakan baru para petugas kaget. Disinggung mengenai alasan pemberhentian itu, Masdjuri mengaku tidak tahu menahu, karena merupakan wilayah Kemenag Pusat.
“Kalau secara prosedural memang sudah benar. Surat dari Bimas diserahkan ke kades setempat, selaku penanggung jawab yang memberikan rekomendasi dalam pengangkatan,” ujarnya. (gun/ila/mga)