FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
MINTA TRANSPARAN:Koordinator LSM Human Right Defenders P. Tutus A. Nugroho (kanan) mendatangi Kantor Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Kota Magelang.
MAGELANG – Kegiatan Ayo ke Magelang 2015 dipertanyakan se-jumlah pihak. Termasuk dari kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM).Kali ini, lembaga nirlaba yang me-nyoal soal kegiatan milik Pemkot Magelang tersebut adalah LSM Human Right Defenders (HRD).Lewat surat yang ditujukan pada Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Kota Magelang, Koordinator LSM Human Right Defenders P. Tutus A. Nugroho minta informasi seputar program yang dicanangkan Wali Kota Sigit Widyonindito sebelum mengakhir masa jabatannya.Adapun informasi yang dibutuhkan dari lembaga nonbisnis ini adalah menyangkut kegiatan Ayo ke Mage-lang yang diampu Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwi-sata (Disporabudpar) Kota Magelang.”Kami bermaksud minta infor-masi terkait program kegiatan Ayo ke Magelang. Khususnya kegiatan yang tanggung jawab dan atau pelaksanaannya di bawah Dispora-budpar,” kata Nugroho yang ditemui koran ini usai memasukkan surat ke kantor PPID di Jalan Pahlawan, kemarin (29/4)
Dalam suratnya pada PPID, Nugroho minta rincian anggaran kegiatan yang digembar-gem-borkan ada 100 even lebih. Ter-masuk, proses lelang atau penunjukkan pihak ketiga yang menangani tiap even.”Untuk even-even yang telah dilaksanakan, kami meminta laporan kegiatan dan dokumen-tasinya,” paparnya.Tutus menjelaskan, alasan meminta informasi publik ter-sebut. Yakni untuk keperluan transparansi, evaluasi, dan pengawasan publik.”Termasuk di dalamnya akses informasi penggunaan danaatau anggaran baik APBD maupun APBN, terkait program Ayo ke Magelang yang tanggung jawab dan atau pelaksanaannya di bawah Disporabudpar dan SKPD lainnya,” paparnya.Selain LSM, beberapa kalangan juga mempersoalkan kebe radaan program Ayo ke Magelang yang kurang sesuai tujuan. Even-even yang seharusnya untuk mem-promosikan keberhasilan pem-bangunan selama kepemimpinan Wali Kota Sigit Widyo nindito dan Wakil Wali Kota Joko Prasetyo, justru sia-sia. Karena bukan rasa senang dan muncul pujian setelah me nikmati even.
Namun sebaliknya, justru kekecewaan dan omelan. Meng-ingat even yang berjalan, banyak kekurangannya. Semua di-karenakan perencanaan dan pelaksanaan yang amburadul.”Sangat disayangkan, angga-ran Rp 8 miliar untuk 103 even selama tahun 2015, hasilnya mengecewakan,” kritik Ketua Fraksi Hanura Nasdem (Hannas) DPRD Kota Magelang Tyas Anggraeni BP.Mantan Ketua Dewan Ke senian Kota Magelang Condro Bawono mengaku, heran dengan ke-beradaan kereta kencana dalam Kegiatan Grebeg Gethuk yang merupakan Rangkaian Ayo ke Magelang. Sepanjang yang ia ketahui, sejak awal pengang garan Grebeg Gethuk, pihaknya tidak menginginkan ada kereta ken-cana. Dengan dalih ada pihak yang menginginkan kirab keliling kota menggunakan kereta kencana, akhirnya panitia me-ngupayakan kereta kencana.
“Sepengetahuansaya, sewa kereta kencana harus bayar Rp 10 juta. Kayaknya di proposal tidak ada anggaran untuk itu. Patut diduga ada egah-eguh anggaran,” katanya mengkritik.Permohonan informasi publik yang diajukan Nugroho diterima Kabid Kominfo Dishubkominfo Kota Magelang Riyanto TR. Ia juga merupakan Tim Inti PPID.”Silahkan kalau mau meminta infomasi. Karena tuntutan clean goverment mewajibkan kami selalu terbuka terhadap infor-masi. Mengingat persoalan ini menyangkut pihak lain, dalam hal ini Disporabudpar dan SKPD lain, kami perlu waktu untuk koordinasi,” kata Riyanto ber-alasan. (dem/hes/ong)