GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
MULAI DIGELAR: Terdakwa Maryani dan Dahono dalam sidang perdana kasus korupsi dana hibah Persiba Bantul di Pengadilan Tipikor, Jogja, kemarin (29/4).
JOGJA – Sidang perdana kasus dugaan korupsi dana hibah Per-siba Bantul dengan terdakwa Mar-yani dan Dahono di Pengadilan Tipikor, Jogja, kemarin, sempat diwarnai kegaduhan dan adu ar-gumen. Situasi ini bermula ketika Ketua Majelis Hakim Barita Saragih SH memberikan kesempatan ke-pada para terdakwa dan penasihat hukumnya apakah ingin mengaju-kan keberatan atau eksepsi atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ismaya Hera Wardani SH.Setelah diberikan kesempatan, ter-dakwa Maryani dan Dahono maupun penasihat hokum (PH) menyatakan tidak mengajukan keberatan. “Se-suai KUHAP, terdakwa dan penasihat hukum memiliki hak untuk mengaju-kan keberatan atas dakwaan jaksa. Boleh mengajukan keberataan dan boleh tidak,” kata Barita.
Mendengar tawaran itu, PH kedua terdakwa yaitu Aryo Saloko SH dkk menyatakan tidak mengajukan kebe-ratan atau eksepsi. “Ya mulia, kami penasihat hukum dan terdakwa tidak mengajukan keberatan,” kata Aryo.Selanjutnya, hakim Barita menyin-dir jaksa perihal redaksional berkas dakwaan. Menurut Barita, redaksi-onal bahasa dakwaan yang diguna-kan jaksa tidak konsisten. Itu ter-kait perbuatan melawan hukum apakah dilakukan bersama-sama oleh terdakwa Maryani dengan saksi Dahono, atau masing-masing terdakwa Maryani dan Dahono.”Redaksionalnya tidak konsisten dari awal hingga akhir. Yang benar itu, perbuatan dilakukan secara bersama-sama atau masing-masing terdakwa?,” sindir Barita.
Tak berhenti di situ, Barita juga menyindir mengenai jumlah ke-rugian negara yang ada di berkas Maryani dan Dahono. Menurutnya, jika perbuatan melawan hukum tersebut dilakukan bersama-sama, maka nilai kerugian negara seha-rusnya menjadi satu. “Kalau se-perti ini, jumlah kerugian negara lebih dari Rp 2 miliar, bukan Rp 1 miliar,” terang Barita.Mendengar pernyataan Barita itu, Jaksa Ismaya hanya mengang-guk. Wajahnya terlihat pucat, sedangkan rekannya sesama jaksa disampingnya hanya menunduk. “Iya majelis hakim,” saut Ismaya mengiyakan koreksi redaksional yang diajukan Barita.
Peristiwa tak biasa dalam sidang di Pengadilan Tipikor juga di-perlihatkan jaksa. Usai membacakan berkas dakwaan, jaksa Ismaya men-dadak mengajukan renvoi (perbai-kan/pembetulan) atas berkas dak-waan kepada majelis hakim. Renvoi itu mengenai nilai tagihan/invoice dan sejumlah kalimat redaksional yang dimuat dalam dakwaan. Men-dengar hal itu, lagi-lagi hakim Ba-rita Saragih kembali menegur jaksa. “Seharusnya tidak boleh ada ren-voi, dakwaan kan sudah dibacakan. Sebelum dibacakan kan sudah diteliti dahulu,” sindir Barita. Men-dengar pengajukan renvoi tersebut, penasehat hukum terdakwa kebe-ratan. “Maaf ya mulia, kami bene-ratan,” kata Aryo Saloko, penasehatt hukum terdakwa.Keberatan yang diajukan pena-sihat hukum disambut sindiran oleh hakim Barita. Ia mengingat-kan kepada penasihat hukum agar konsisten terhadap keputusan yang diambil yaitu tidak mengajukan keberatan. (mar/laz/ong)