FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
TAK MANUSIAWI: Para SPG dan karyawan outsourching diharuskan mengepel lantai dan membesihkan toilet secara bergantian. Kebijakan tersebut dikeluarkan Manajemen Carrefour Magelang.
MAGELANG – Sejumlah sales promotion girl (SPG) mempertanyakan kebijakan manajemen Carrefour Magelang. Sejuah ini, posisi mereka bekerja untuk menjual dagangan dari suplier yang menggaji mereka. Namun, para SPG tersebut setiap hari diminta merangkap sebagai petugas cleaning service. Salah seorang SPG mengatakan, setiap hari secara bergantian mereka diminta mengepel lantai dan membersihkan toilet. Pekerjaan tersebut dilakukan saat jam kerja
Padahal, setahu mereka tidak ada perjanjian kerja merangkap jadi petugas kebersihan maupun cleaning service.”Sudah ada jadwal bersihin toilet per departemen ber gantian dalam satu minggu. Sementara karyawan Carrefour hanya ada satu sampai dua orang. Yang lain adalah SPG. Mereka disuruh bersihkan toilet,” ungkap perem-puan yang enggan identitasnya disebutkan, kemarin (29/4).Adanya kebijakan tersebut di-nilai tak sesuai kaidah kete-nagakerjaan. Manajemen Car-refour Magelang dianggap tidak pernah memperhatikan ke-sejahteraan karyawan outsour-ching. Terutama SPG dan SPM. Padahal, kondisi sekarang jumlah pekerja SPG dan SPM lebih banyak mencapai 120 orang. Sedangkan pekerja tetap hanya 89 orang.”Enggak fair dong kalau SPG harus turun bersihin kamar mandi. Karena kami punya tanggung jawab sendiri dengan perusahaan yang memper-kerjakan dan menggaji kami. Kalau sibuk di toilet, terus yang ngurus produk siapa,” keluhnya.
Store Manager Carrefour Magelang Warso Supeno mem-bantah, pihaknya melakukan pemaksaan pada karyawan Car-refour maupun pekerja out-sourching, agar merangkap jadi petugas cleaning service.Menurut Warso, kebijakan itu diterapkan semata demi me-nanamkan budaya bersih pada seluruh karyawan yang ada di Carrefour Magelang.”Saya anggap SPG dan SPM adalah konsultan. Demikian juga dengan karyawan Carrefour, jadi semuanya wajib membu-dayakan kebersihan. Salah satu-nya, ngepel, bersihin toilet, kaca, meja kantor, harus bisa dilakukan konsultan Carrefour,” paparnya.Warso juga tidak menampik, penerapan kebijakan tersebut tidak hanya berlaku terhadap karyawan Carrefour yang menda-patkan gaji dari Carrefour. Para SPG dan SPM yang mendapatkan gaji dari perusahaan suplier pun, tetap diminta terlibat menjaga kebersihan di dalam ruangan.”Saya tidak mau ada yang kotor, termasuk di toilet. Makanya ada kebijakan supaya dijadwal setiap departemen, supaya mereka membersihkannya. Tidak hanya diemban tugas cleaning service saja, karena kebersihan jadi tanggung jawab bersama. Wong saya saja ikut ngepel juga kok,” katanya.
Disinggung soal upah karyawan, mantan Store Manager Carrefour Pekalongan ini membenarkan karyawan outsourching SPG dan SPM tak mendapatkan gaji dari Carrefour. SPG dan SPM hanya mendapat gaji dari perusahaan suplier yang mempekerjakan mereka.”Sedangkan Carrefour mem-bantu perusahaan suplier untuk men-display produk mereka. Artinya saling menguntungkan saja. Soal kesepakatan, dengan perusahaan suplier, kami sudah menjalin kemitraan. Jadi, se-muanya harus terlibat dengan kebijakan Carrefour,” tegasnya.Tugas menjaga kebersihan sebenarnya tidak sulit. Bahkan, ia mengklaim banyak karyawan yang mengapresiasi dengan kebijakan tesebut, tanpa pem-berian upah tambahan.”Cuma ngepel sama bersihin toilet. Malahan mereka (SPG dan SPM) senang, karena mereka nilai pekerjaan bersih-bersih itu mulia,” katanya. (dem/hes/ong)