DWI AGUS/RADAR JOGJA
PROGRAM BARU: Para Finalis Dimas dan Diajeng Kota Jogja saat mengikuti program Mlampah-Mlampah ing Museum di Museum Keraton Jogja, kemarin (29/4).

Komunitas Difasilitasi Bus Kunjungan dan Tiket Gratis

Upaya meningkatkan kunjungan museum di Jogjakarta terus dilakukan dengan berbagai program. Salah satunya adalah program Mlampah-Mlampah ing Museum atau disingkat 3 M. Kegiatan ini mengajak masyarkat selama sehari mengunjungi berbagai musuum di kota ini. Ide di balik ini semua adalah para penggawa Duta Museum DIJ.
DWI AGUS, Jogja
JOGJAKARTA memiliki potensi besar di berbagai sudutnya. Salah satu yang ber-kembang dengan cukup subur adalah ke-beradaan museum yang mencapai 48 mu-seum. Dari sejumlah museum ini, 33 di antaranya sudah terdaftar di Badan Mu-syawarah Musea Daerah Iistimewa Jogja-karta (Barahmus DIJ).Potensi ini tentu perlu sebuah upaya agar tetap lestari. Setidaknya dengan mening-katkan jumlah kunjungan di berbagai mu-seum di Jogjakarta. Upaya serius juga dila-kukan Duta Museum DIJ dengan berbagai programnya, salah satunya 3 M itu.”Ini merupakan program baru dari Duta Mu-seum DIJ. Sasaran utamanya komunitas di Jog-jakarta, tapi tidak menutup kemungkinan untuk masyarakat umum juga,” kata salah satu Duta Museum DIJ Andhita Reharrisky (29/4).Kegiatan ini diawali dengan kunjungan ke beberapa museum di Jogjakarta. Mengawali kunjungan Duta Museum DIJ mengajak Fi-nalis Dimas Diajeng Kota Jogja 2015 berkeli-ling. Diawali dengan Gedung Agung Jogja-karta, lalu menuju Museum Sonobudoyo, berlanjut ke Museum Keraton Jogjakarta dan berakhir di Museum Ulen Sentalu Sleman
Andhita mengungkapkan pro-gram ini bertujuan mengenalkan museum sebagai salah satu de-stinasi wisata. Dipilihnya komu-nitas, karena memiliki jaringan luas. Harapannya setiap indi-vidu di dalamnya dapat men-jadi corong untuk mengenalkan ragam museum di Jogjakarta.”Apalagi saat ini sudah masuk pada era gadget dan media so-sial. Saat mereka berkunjung bisa memfoto dan langsung mengunggah ke akun sosial me-dia masing-masing. Dari sinilah mampu mempromosikan dan mengenalkan keragaman mu-seum di Jogjakarta ini,” ungkap-nya.Program baru ini pun menda-patkan dukungan dari Dinas Kebudayaan DIJ. Bentuknya dengan memfasilitasi bus tran-portasi Waktu Kunjung Mu-seum dan juga tiket masuk museum. Sehingga ini memu-dahkan bagi komunitas yang ingin melakukan kunjungan ke museum.Menurut Andhita, dukungan merupakan stimulus yang sang-at positif. Terlebih peran Dinas Kebudayaan sendiri yang me-miliki kewajiban mengenalkan potensi di Jogjakarta. Dalam setiap museum yang dikunjungi pun terdapat ragam artefak yang dapat menceritakan berbagai sisi sejarah Jogjakarta.”Sonobudoyo terdapat artefak seni dan budaya setiap daerah. Lalu saat di Keraton Jogja menge-nalkan artefak dan juga sejarah berdirinya Keraton dan juga Jogjakarta. Juga memuat peran Jogjakarta dalam sejarah Indo-nesia,” imbuhnya.
Pemilihan Dimas Diajeng Kota Jogja sendiri memiliki misi tersendiri. Ini karena peran dari 30 finalis terpilih untuk mengenalkan potensi kota Jog-ja. Sebagai duta wisata, besar harapannya memasukkan mu-seum sebagai salah satu desti-nasi wisata di Jogjakarta.Tanggapan positif pun diberi-kan oleh para finalis Dimas Diajeng Kota Jogja 2015. Salah satunya Alifah Yuli Nugraeni yang menyimak secara serius penje-lasan dari edukator museum. Dengan adanya program ini mampu menambah wawasan tentang Jogjakarta.”Menyenangkan tentunya bisa berkunjung ke berbagai museum di Jogjakarta. Segala artefak ini terekam dalam ben-da-benda di museum. Sebagai jendela pengetahuan akan ma-sa lalu dan untuk masa depan, tentunya keberadaan museum sangatlah penting, khususnya untuk generasi muda,” kata Diajeng Alifah.Upaya pengenalan museum ke khalayak publik juga dilaku-kan oleh duta museum lainnya, dr. G.M Silvia Merry M.Sc. Diri-nya pun memanfaatkan jabatan-nya di Universitas Kristen Duta Wacana untuk berpromo. Salah satunya menggelar kunjungan mahasiswa ke Museum Gunung Api Merapi.Meski mahasiswa Fakultas Ke-dokteran, memiliki korelasi dengan disiplin ilmunya. Ini dilihat dari siklus keaktifan gu-nung Merapi. Di mana saat me-masuki masa rawan, gunung ini memuntahkan berbagai mate-rial.”Misalkan debu silica yang berbahaya bagi manusia. Kita lihat dari perspektif ini untuk mengatisipasi ke depannya. Lalu pertengahan Mei juga akan melibatkan mahasiswa Fakultas Teknik Informatika. Untuk me-lihat dari sisi web desain yang dibuat oleh masing-masing mu-seum. Ada pertukaran ide dalam proses ini dengan lintas disiplin ilmu yang berbeda,” kata dosen Fakultas Kedokteran UKDW ini.Program ini merupakan salah satu upaya lain untuk mening-katkan angka kunjungan ke mu-seum. Program-program lainnya pun tetap dihidupkan sesuai segmentasi pengunjung. Se-perti program outbond yang melibatkan anak-anak sekolah.Andhita menyebutkan program ini pernah melibatkan siswa Taman Kanak-Kanak (TK) Sran-dakan Bantul. Program yang berlangsung belum lama ini terpusat di Kebun Binatang Gem-biraloka Jogjakarta. Di mana kegiatan berkunjung ke museum dikemas secara menyenangkan.
Untuk program 3 M ini juga diterapkan interaksi antara duta museum dan komunitas. Selain menentukan destinasi museum, program ini juga ter-buka untuk saran. Interaksi ini, menurutnya, sangat pas dan efektif jika dijalankan secara optimal.”Ya kayak TK kita outbond ke museum-museum dengan cara yang menyenangkan. Lalu 3 M, misalkan ada komunitas yang usul ke Museum Dirgantara, ya kita ke sana. Jadi ada keterkaitan untuk mengenal museum lebih dalam,” ungkapnya.Sebuah kegiatan untuk mem-peringati Hari Museum Inter-nasional pun akan digelar 12 – 17 Mei mendatang. Rencananya, kegiatan ini akan berpusat di halaman Museum Sonobudoyo Unit I Jogjakarta. Berbagai ke-giatan, khususnya untuk menge-nal museum, akan digelar se-lama sepekan.”Kalau aslinya tanggal 18 Mei diperingati, tapi kita majukan jadi 17 Mei. Sayangnya di Indo-nesia sendiri belum ada peringa-tan Hari Museum Nasional. Mun-gkin ke depan hari peringatan ini bisa diselenggarakan. Museum itu penting, karena merupakan saksi kebesaran sebuah bangsa,” tandasnya. (laz/ong)