INOVATIF: Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo dan Wakil Bupati Tutedjo saat mengikuti gotong-royong bedah rumah, kemarin. Kegiatan ini sudah menjadi bagian dalam program pengentasan kemiskinanKULONPROGO-Program pengentasan kemiskinan di Kabupaten Kulonprogo dinilai cukup berhasil dan menarik untuk dikaji. Salah satu yang melakukan kajian adalah Achilles Yuska Wicaksono, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Departemen Ilmu Administrasi, Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Universitas Indonesia.
Dia menilai, Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo memiliki banyak terobosan dan inovasi khususnya dalam progam pengentasan kemiskinan. Menruutnya, sukses pengentasan kemiskinan ini dipengaruhi inovasi dan arah kebijakan pimpinan daerah.
Menurutnya, ide yang brilian dan gagasan yang cemerlang terkait upaya penanggulangan kemiskinan hanya akan menjadi kenyataan jika ada pemimpin yang mampu mewujudkannya. “Saya sudah di Kulonprogo sejak 21 April lalu, dan rencana sampai 30 Juni mendatang,” kata mahasiswa yang akrab disapa Uka saat melihat program bedah rumah yang juga salah satu program pengentasan kemiskinan yang terus digalakan di Kulonprogo, kemarin (10/5).
Menurut Uka, peranan kepemimpinan akan sangat menentukan dalam penanggulangan masalah kemiskinan. Tanpa ada kepemimpinan yang memiliki keberanian (gust), ketegasan (decisive), keberpihakan yang nyata kepada masyarakat miskin. Serlain itu memiliki kemampuan mengartikulasikan pengetahuan dari masa ke masa, maka akan sulit untuk menangani masalah-masalah krusial terkait kemiskinan.
“Saya akan meniliti tiga hal dari pak Hasto dalam upaya pengentasan kemiskinan ini,” jelasnya. Pertama, interpersonal role. Kedua informational role. Dan ketiga decisional role.
Menurutnya, Kulonprogo semakin menarik karena di tahun 2009-2012 persentase angka kemsikinan Kulonprogo tercatat tertinggi di DIJ. Namun di tahun 2013, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa penurunan angka kemiskinan di Kulonprogo justru terbesar di DIJ. “Hebatnya lagi struktur APBD Kulonprogo saya nilai belum ideal, PAD juga masih rendah. Dilihat dari data BPS, PDRB Kulonprogo juga terndah di DIJ. Namun angka kemsikinan kok bisa ditekan dengan baik,” jelasnya.
Ditambahkan Uka, untuk mendapatkan informasi secara komprehensif, ia tidak hanya melakukan wawancara dengan berbagai pihak. Namun juga ikut melihat langsung berbagai program pengentasan kemiskinan, salah satunya kegiatan bedah rumah yang dilaksanakan setiap hari Minggu.
Bedah rumah kali ini menyasar rumah Suroso, warga Dobangsan, RT 20 Giripeni, Wates. Kemudian rumah Poniran Ariwibowo, warga Karangrejo, Karangwuni, Wates, dan Tuminah warga Dusun 3, Bugel, Panjatan.
Panitia bedah rumah di Dobangsan Suradiman menyatakan, sejak tahun 2012 hingga 2015 ini di Desa Giripeni sudah berhasil melakukan bedah rumah sebanyak 21 unit. Proses dilakukan dengan dana swadaya masyarakat. Tahun 2015, pemerintah desa melalui APBDES juga akan melakukan bedah rumah delapan unit. “Saat ini ada 103 rumah tidak layak huni (RTLH) di wilayah ini,” kata Suradiman.(tom/din/ong)