SLEMAN- Selama setahun terakhir, 52 prestasi diraih para mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) dalam berbagai kejuaraan. Itu terdiri dari, 32 prestasi di bidang penalaran dan 20 minat bakat.
Dari jumlah itu, 12 di antaranya prestasi bertaraf internasional. Di antaranya, juara I-III ERP Sim Asia Pacific Japan Cup 2014, The Best Speaker International Conference 2014, The Best Poster Presentation Joint Indonesia – United Kingdom (UK) Conference on Organic and Natural Product Chemistry, serta juara I-III ERP SIM Asia Pacific Japan Cup 2015.
Rektor Dr Harsoyo mengatakan, upaya mendorong peningkatan prestasi mahasiswa melalui pelatihan penulisan karya tulis ilmiah, lomba karya tulis, hingga pengiriman mahasiswa mewakili kampus di ajang kompetisi tingkat lokal, regional, nasional, dan internasional.
Di sisi lain, UII diarahkan dan dikembangkan lebih untuk peduli terhadap mahasiswa, khususnya dari keluarga kurang mampu. Untuk itu, berbagai beasiswa digelontorkan, baik berasal dari dana internal maupun eksternal. Di antaranya, beasiswa mahasiswa teladan, unggulan pondok pesantren UII, hingga untuk mahasiswa hafidz Alquran.
Beasiswa eksternal di antaranya dari Toyota Astra, bidikmisi, Supersemar, Bank Pembangunan Daerah, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Dikpora DIJ. “Selama 2014 sebanyak 915 mahasiswa menerima beasiswa dengan total nilai Rp 6,5 miliar,”ujar Harsoyo dalam orasi sidang senat terbuka milad ke-72 UII di Auditorium Kahar Mudzakir kemarin (18/5).
Masih dalam upaya menciptakan world class university, di usia 72 tahun, UII makin gencar dalam pengiriman mahasiswa untuk mengikuti program student exchange, praktik pengalaman lapangan (PPL), dan kunjungan mahasiswa di perguruan tinggi ternama di luar negeri. Antara lain, program PPL di Mornington Secondary College dan Dromana Secondary College (Australia), Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youth (JENESYS) Programme, International Exchange di Milano Cattolica Italy, dan International Exchange di Ho Chi Minh, Vietnam.
Harsoyo mengajak seluruh sivitas akademika di perguruan tinggi untuk menumbuhkan sifat-sifat keteladanan yang membumi di lingkungan kampus.
Ketua Yayasan Badan Wakaf Dr Luthfi Hasan mengingatkan besarnya harapan tokoh nasional ketika UII pertama kali berdiri pada 8 Juli 1945 di Jakarta. “Sebagai perguruan tinggi nasional tertua tentunya harus lebih eksis dan berperan tidak hanya di Jogjakarta. Tapi lebih luas lagi,” ujarnya.
Koordinator Kopertis Wilayah V DIJ Dr Bambang Supriyadi CES DEA berpesan, bahwa menjelang era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, UII hendaknya bisa menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain. Khususnya, peningkatan kualitas lulusan dan sumber daya manusia. “Saya berharap lulusan UII dapat bersaing dan berbicara banyak sebagai wakil Indonesia ketika dihadapkan pada persaingan dengan sumber daya manusia dari negara-negara ASEAN lainnya,” ucapnya.(yog/din/ong)