GUNAWAN/RADAR JOGJA
GOTONG ROYONG: Bupati Gunungkidul Badingah dalam acara Pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-12 dan Hari Kesatuan Gerak PKK (HKG PKK) ke-43 di lapangan Desa Piyaman, Wonosari, Selasa (19/5).
GUNUNGKIDUL – Dampak arus globalisasi yang terjadi dewasa ini menjadi perhatian serius. Pasalnya, bisa menggerus kearifan lokal yang sudah ada. Hal itu diungkapkan oleh Asisten Sekda Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat DIJ Sulistyo.”Dalam era globalisasi seperti sekarang, kearifan lokal yang se-lama ini sudah melekat kuat pada masyarakat DIJ berupa etika dan tata karma tidak boleh dihilang-kan,” kata Sulistyo saat membaca-kan sambutan Gubernur DIJ di lapangan Desa Piyaman, Wonosari, Selasa (19/5).Pada acara Pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-12 dan Hari Kesatuan Gerak PKK (HKG PKK) ke-43 tingkat DIJ ini, juga disampaikan imbauan agar masyarakat bisa berdaya guna melalui semangat gotong royong yang menjadi ciri khas warga DIJ. “Salah satu tujuannya meningkat-kan kesadaran masyarakat menuju penguatan integrasi sosial,” terangnya.
Dalam mencapai hal itu, harus dimulai dari lingkup paling kecil, yakni keluarga. Sebab keluarga yang kuat dapat dipastikan membawa penguatan kelembangaan di masya-rakat. “Bulan bakti gotong royong, bukan hanya membuktikan penting-nya budaya gotong royong itu sendiri, namun akan membawa kemandirian dan keswadayaan masyarakat,” terangnya.Bupati Gunungkidul Badingah mengakui, jiwa gotong royong di masyarakatnya masih melekat kuat. Bahkan beberapa aspek pem-bangunan daerah juga lebih me-najamkan pada semangat keber-samaan itu. “Ini penting, karenanya globalisasi menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Jogja-karta,” kata Badingah.Dalam kesempatan itu juga diserahkan bantuan dan beberapa penghargaan, di antaranya 16 sertifikat tanah untuk tujuh desa di Gunungkidul pada program inventarisasi dan pensertifikatan tanah Sultan Ground. Penyerahan dana Rp 120 juta untuk sepuluh kelompok wanita tani. (gun/ila/ong)