JOGJA – Longsor yang terjadi pada tebing di Pantai Sadranan, Tepus, Gunungkidul, juga mengundang perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ. Pascabencana ini, BPBD DIJ akan meningkatkan kewaspadaan.
Kepala BPBD DIJ Gatot Saptadi mengatakan,
selama ini pihaknya hanya memiliki peta longsor secara umum atau landslide. Tidak pernah menyentuh longsor yang spesifik, seperti tebing batuan kapur di Pantai Sadranan tersebut.
“Kami sudah punya peta longsor, tapi yang secara umum saja. Kalau yang spesifik, seperti yang terjadi di Sadraranan kemarin, agak tertinggal,” ujarnya saat ditmui di kompleks Kepatihan Jogja, kemarin (18/6).
Karena itu, dengan terjadinya bencana di Pantai Sadranan ini, membuat BPBD DIJ segera melakuka pendataan ulang potensi longsor di DIJ yang lebih spesifik. Menurut dia, longsor tebing di Pantai Sadranan, termasuk baru dan jarang terjadi. Meski diakuinya, kejadian hampir sama pernah terjadi pada tebing di Pantai Baron beberapa tahun lalu.
Disebutkan, saat itu longsor di tebing Pantai Baron karena faktor gempa, sedang longsor di tebing Pantai Sadranan tidak ada pemicu sebelumnya, tapi lebih karena faktor usia tebing. “Yang di Sadranan ini tidak ada pemicunya, seperti gempa, sehingga ambrol,” ungkapnya.
Untuk itu pihaknya juga akan melakukan koordinasi dengan instansi-instansi lain untuk melakukan pendataan ulang peta longsor di DIJ. Termasuk di sepanjang pantai DIJ. “Ini karena pengelolaan pantai-pantai juga melibatkan berbagai instansi lain, seperti Dinas Pariwisata hingga Pemerintah Kabupaten setempat,” ujarnya.
Gatot mengharapkan, dengan terjadinya peristiwa longsor tebing di Pantai Sadranan juga menjadi pelajaran bagi masyarakat, agar lebih waspada. “Ini menjadi pembelajaran kita bersama, pembelajaran yang mahal, karena harus menelan korban jiwa,” ujarnya.
Sementara itu terkait proses evakuasi, Gatot mengaku saat ini komando evakuasi sepenuhnya berada di bawah Polres Gunung Kidul. Seluruh jajaran mulai dari tim reaksi cepat BPBD, kepolisian, tentara dan relawan, sudah dikerahkan. Termasuk bantuan dua alat berat dan bor baja.
Meskipun begitu proses evakuasi sempat dihentikan pada Kamis pagi (18/6) dikarenakan air laut yang mulai pasang. Berdasarkan laporan terakhir yang diterima BPBD DIJ, hingga Kamis kemarin sudah ditemukan enam korban, yang terdiri dari empat korban meninggal dan dua orang luka berat, yang saat ini berada di RSUD Wonosari. (pra/jko/ong)