SETIAKY/RADAR JOGJA
PUTRA SLEMAN: Foto Lettu Pandu Setiawan saat masih menjadi Taruna AAU. Ibu kandung Pandu (tiga dari kanan, duduk di sofa) bersama kerabat dan tetangga korban berkumpul di rumah orang tua Pandu di Dusun Patukan, Ambarketawang, Gamping, Sleman, sambil mengikuti perkembangan berita dari televisi.
SLEMAN – Duka mendalam tampak di rumah orang tua Lettu (Pnb) Pandu Setiawan, Dusun Patukan RT 4 RW 21, Ambarketawang, Gamping, Sleman, kemarin sore (30/6). Itu setelah pesawat Hercules yang dikendalikan copilot Lettu Pandu dikabarkan jatuh di Kota Medan, siang sebelumnya.
Beberapa anggota keluarga, kerabat dan warga sekitar berkumpul di rumah milik orang tua Pandu. Mereka berkumpul di depan televisi untuk terus menyaksikan berita perkembangan jatuhnya pesawat di permukiman warga itu.
Sesekali tangis haru terdengar dari ruangan keluarga yang dipenuhi mayoritas perempuan tersebut. Bahkan Ny Sukilah, ibu mertua Pandu, juga sempat pingsan dan harus dibopong masuk ke dalam kamar.
Setelah mendengar kabar jatuhnya pesawat yang dikemudikan Pandu, keluarga sang istri, Dewi Wulandari, di Tegal, Sidoarum, Godean, Sleman, datang ke rumah duka di Patukan. “Tadi kita dengar dari televisi dan setelah tahu Pandu ada di situ, langsung ke sini. Kalau Dewi kebetulan sedang libur kerjanya, dikabari terus langsung ke sini,” ujar Haryoto, mertua Pandu kepada wartawan.
Makin lama kerabat dan tetangga sekitar rumah duka terus berdatangan. Keluarga mengaku belum mendapatkan pernyataan resmi terkait nasib Pandu yang sehari-hari diketahui sedang berdinas di Malang, Jawa Timur. Bahkan yang mengejutkan, seperti diungkapkan Haryoto, Pandu ternyata baru melangsungkan pernikahan dua bulan lalu dengan perempuan yang sudah dipacarinya sejak beberapa tahun, Dewi Wulandari.
Pandu dan Dewi diketahui baru saja melangsungkan akad nikah 25 April 2015. Namun tak berselang lama, tepatnya 2 Mei 2015, Pandu sudah harus kembali bertugas di kesatuannya di Malang. “Terakhir pamit sama kita tanggal 2 Mei. Habis Subuh, dia SMS saya pamit mau berangkat ke Malang,” ujar Haryoto.
Di mata keluarga dan kerabatnya, Pandu selama ini dikenal pribadi yang baik. Sang istri yang sehari-hari sebagai apoteker menganggap suaminya sebagai seorang pria yang perhatian dan sayang dengan keluarga. Semua kebutuhan dan keperluan keluarga selalu dicukupinya.
Karena tugas suaminya sebagai anggota TNI, Dewi harus menjalani hubungan jarak jauh selama ini. “Saya masih enggak percaya,” ujar Dewi yang mengenal suaminya itu sejak kelas 1 di SMA Muhammadiyah 3 Jogja.
Dewi mengungkapkan, terakhir menjalin kontak dengan suaminya Senin malam (29/6) sekitar pukul delapan malam. “Terakhir kontak tadi malam. Dia BBM saya bunyinya “Bunda, mas tidur dulu ya“. Saya bales, dia ndak bales lagi. Sahur yang biasanya dia telepon, ndak telepon,” ujar Dewi terbata-bata.
Dewi mengaku terakhir kali bertemu suaminya saat awal puasa lalu. Yakni tanggal 19 dan 20 Juni. Pekan ini bahkan ia, ibu, bapak dan adiknya berencana bertemu dengan Pandu. “Tidak ada firasat apa-apa. Sebagai penerbang, dia pernah bilang, jodoh hidup dan mati di tangan Allah, jadi gak usah khawatirin mas. Dia memang sejak SMA sudah bercita-cita menjadi penerbang,” katanya, sambil menyeka air mata.
Sementara ayah Pandu, Sugeng Prayitno, mengaku tidak memiliki firasat apa-apa terkait kejadian yang menimpa anaknya. Menurutnya, Pandu adalah anak yang pandai dan baik dengan keluarga dan tetangganya.
Dia mengetahui kabar jatuhnya pesawat yang ditumpangi anaknya dari teman anaknya. “Tahu dari temannya pukul 13.30 tadi. Saya belum tahu kabar pastinya. Kami hanya mendoakan, mudah-mudahan diberi yang terbaik,” ujar Sugeng yang terlihat berkaca-kaca. (cr3/laz/ong)