GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
SEJAK SUBUH: Masyarakat rela antre panjang dan lama untuk mendapatkan uang pecahan dalam penukaran di KPBI DIJ, kemarin (30/6).
Dua minggu menjelang Lebaran, penukaran uang di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIJ terus meningkat. Banyaknya antrean masyarakat, memunculkan para calo-calo baru. Selain calo atau perantara penukaran uang, juga ada calo penjual kupon antrean penukaran.
HERU PRATOMO, Jogja
Jarum jam belum sempurna menunjukkan pukul 08.00 WIB, tapi ratusan masyarakat sudah memenuhi area lobi KPBI DIJ. Kemarin (30/6) merupakan waktu penukaran uang sesuai jadwal KPBI DIJ.
Terdapat 450 orang yang sudah menunggu di dalam kantor. Mereka termasuk yang “beruntung” mendapatkan kupon antrean. Karena tak sedikit masyarakat yang datang terlambat, harus balik kanan pulang, ditolak masuk petugas.
Perjuangan untuk menukar uang baru di KPBI memang tidak mudah. Banyaknya antrean menjadikan sebagian masyarakat rela datang ke KPBI DIJ yang terletak di Jalan Panembahan Senopati itu selepas Subuh. Padahal pelayanan kas baru dilayani mulai pukul 08.00 WIB.
Tapi sayangnya, antusiasme masyarakat tersebut dimanfaatkan sebagian kecil lainnya untuk menjual kupon nomor antrean. “Ada laporan ke saya, nomor antrean itu dijual Rp 30 ribu,” ujar Kepala KPBI DIJ Arief Budi Santosa.
Hal itu seperti diakui Sumarni. Warga Pengok, Jogja, ini mengaku sudah datang ke KPBI DIJ selepas salat Subuh. Itu pun sudah terdapat puluhan masyarakat yang datang mengantre. Menurut dia, pekan lalu ia sudah coba datang menukarkan uang, tapi sudah kehabisan nomor antrean.
“Memang sengaja datang pagi, takutnya tidak dapat antrean lagi,” ungkap Sumarni yang mengaku akan menukar uang sebesar Rp 5 juta.
Arief mengaku, pihaknya sudah berupaya menekan calo nomor antrean dengan melarang masyarakat yang sudah mengambil nomor antrean keluar gedung KPBI DIJ, sebelum nomor antrean habis. Meski sudah ada laporan percaloan nomor antrean, ternyata tidak mengurani minat masyarakat.
Arief yang pagi itu menyempatkan memantau penukaran uang, juga meminta pegawainya menambah kursi, melihat pengantre banyak yang duduk lesehan. “Pelayanan hari ini agak tertunda karena setiap Selasa pagi ada pengajian dulu,” ujarnya.
Arief mengatakan, sebenarnya KPBI DIJ sudah berupaya mengalihkan lokasi penukaran uang tidak hanya di KPBI DIJ saja, tapi juga di kantor-kantor perbankan maupun mobil kas keliling yang disediakan. Menurutnya, selama ini masih ada kesan penukaran uang baru hanya dilayani di KPBI DIJ saja.
“Ini yang pelan-pelan kami edukasi. Penukaran uang juga bisa di kantor perbankan, sehingga tidak perlu jauh-jauh ke sini,” terangnya.
Untuk penukaran sendiri, menurut Arief, pihaknya tidak melakukan pembatasan, tapi disesuaikan dengan kas BI yang dikeluarkan hari itu dan banyaknya antrean masyarakat. “Kami melayani sesuai kebutuhan masyarakat, tapi yang wajar dong,” ungkapnya.
Pada tahun ini, KPBI DIJ menyiapkan Rp 4,35 triliun uang tunai. Untuk keperluan pengisian ATM perbankan dan penukaran pecahan uang besar atau Rp 50 ribu ke atas, sekitar Rp 4 triliun. Kemudian untuk penukaran pecahan uang kecil atau Rp 20 ribu ke bawah, Rp 300 miliar.
Dalam kesempatan ini, Arief juga mengomentari tentang banyaknya masyarakat yang menjajakan penukaran uang di depan KPBI DIJ. Menurut dia, para perantara penukaran uang itu mengambil kesempatan dari meningkatnya kebutuhan masyarakat akan uang.
BI sendiri tidak bisa melarang karena juga tidak ada aturan yang melarangnya. Terkait kemungkinan peredaran uang palsu, Arief juga mengharapkan masyarakat tetap waspada dengan meyakinkan dan mengecek keaslian uang. “Kalau mau aman, menukar di kantor perbankan atau kas keliling saja. Kalau itu dijamin uang asli semua,” katanya.
Deputi Kepala KPBI DIJ Hilman Tisnawan menambahkan, sejak dibuka awal puasa lalu, sampai saat ini realisasi penukaran uang sudah mencapai Rp 70 miliar. Hingga akhir puasa nanti, pihaknya memperkirakan realisasi penukaran bisa mencapai Rp 150 miliar.
Penukaran didominasi oleh pecahan uang kecil. “Sampai saat ini yang favorit masih pecahan uang Rp 2.000 dan Rp 5.000. Jadi memang stoknya kami perbanyak,” jelas Hilman.
Di luar penukaran uang, ia mengatakan sebenarnya BI sedang mendorong pemanfaatan transaksi nontunai sebagai pengganti transaksi tunai selama ini. “Saya membayangkan besok kalau kasih angpao Lebaran tidak lagi dalam bentuk uang, tapi sudah kartu,” ujarnya. (laz/jiong)