YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
RUTIN: Bupati Sleman Sri Purnomo dan Kepala Disperindagkop Sleman Pustopo saat membuka Pasar Lebaran di halaman Kantor Disperindagkop Sleman.
SLEMAN- Setiap tahun, Pasar Lebaran yang dicanangkan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) justru menjadi arena membolos bagi sebagian oknum pegawai negeri sipil (PNS) di ling-kungan Pemkab Sleman. Buktinya, banyak pegawai yang berbelanja atau sekadar cuci mata di halaman kantor Disperindagkop, yang menjadi lokasi Pasar Lebaran.Anggota Forum Pemantau Independen (Forpi) Hempri Suyatna membenarkan kondisi tersebut. Usai memantau pasar, Hempri mengusulkan agar pelaksana even tersebut meninjau ulang jam opersional Pasar Lebaran. Yang biasanya mulai pagi sampai sore digeser siang sampai malam. “Setidaknya mulai pukul 14.00 atau setelah jam kerja PNS,” katanya kemarin (30/6).Hempri menilai, Pasar Lebaran tak ubahnya pasar tani yang dihelat setiap Jumat pagi di lapangan Pemda. Pasar yang menyediakan aneka bibit tanaman dan hasil agroindustri justru jadi tempat nongkrong bagi sebagian PNS. “Itu seharusnya tak terjadi. Pasar tani juga harus dievaluasi,” pintanya.Pemilihan lokasi juga dianggap tak tepat. Menurut Hempri, lokasi pasar bisa dipindah ke area yang lebih luas. Di Lapangan Pemda atau Denggung, misalnya. Dengan begitu, kesan Pasar Lebaran yang memang ditujukan bagi masyarakat bisa tercapai. “Kalau sekarang tetap saja kesannya hanya untuk kalangan PNS,” ujar dosen Fisipol UGM itu.Kepala Disperindagkop Pustopo pernah mengimbau kepada para PNS agar berkunjung ke Pasar Lebaran usai jam kerja. Namun, menurut Hempri, pengawasannya sulit dilakukan. Faktanya, tetap masih ada PNS berkeliaran di luar jam kerja. Menurut Hempri, adanya produk sembako berharga murah bagi golongan umum menjadi pemicu banyaknya PNS berada di Pasar Lebaran di luar jam kerja. Terutama pegawai perempuan. “Tentu saja mereka mau berebut. Apalagi harus antre. Kan, harus dari pagi supaya tak kehabisan stok,” selidiknya.Pustopo mengatakan, stok sembako di Pasar Lebaran terbatas. Karena itu, bagi pengunjung umum, termasuk PNS, di-berlakukan sistem girik (kartu antrean). Hanya pemegang kartu yang bisa menebus sembako pada hari itu. “Jangan sampai ada yang antre lama tapi kehabisan stok,” ucapnya. Panitia menyediakan sedikitnya 2 ton beras dan 2 ton gula pasir, dan minyak goreng dengan harga di bawah pasar. Tiap pengunjung maksimal belanja satu paket sembako murah per hari. (yog/din/ong)