Crayonala for Radar Jogja

Dibuat Homemade, Lebih Ramah Lingkungan

Di balik kreativitas dan warna-warni gambar dan coretan anak-anak, ada bahaya bahan kimiawi oleh pewarna seperti crayon. Memberi alternatif bagi orangtua, Monika Meitasari Astuti dkk membuat crayon ramah lingkungan. Menanggalkan bahan kimiawi, dan menggantinya dengan lilin lebah (beeswax), minyak kelapa dan pewarna makanan.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
Menggambar dan mewarnai jadi dua media pembelajaraan dan tumbuh kembang anak yang paling banyak diaplikasikan orangtua pada anak. Melalui menggambar dan mewarnai, anak-anak dilatih untuk mengekspresikan diri. Tapi tak banyak yang tahu ada zat berbahaya kimiawi yang terkandung dalam peralatan warna.
Inilah yang melatarbelakangi lima mahasiswi Universitas Sanata Dharma (USD) yakni Monika Meitasari Astuti (Farmasi 2012), Prisca Nadya Verina Djala (Farmasi 2012), Sina Susanti (Farmasi 2012), Dea Puput Arisanti (Farmasi 2013) dan Ade Yuniati (Akuntansi 2012) membuat crayon ramah lingkungan.
Tergabung dalam satu tim PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), salah satu program Dikti, lima mahasiswi ini tak begitu saja menemukan komposisi yang pas untuk menghasilkan crayon yang baik. Dari segi tekstur, warna dan juga keamanan bagi pemakai.
Tim ini pun mengalami gagal uji coba beberapa kali. Ketika mendapati teksturnya pas, namun saat diaplikasikan di kertas kurang halus. Atau sempat tekstur halus, tapi warna belum tegas di atas kerta. “Sekitar dua bulan program berjalan, kami baru menemukan komposisi yang sesuai dan akhirnya bisa dipasarkan,” ujar Monika.
Sesuai namanya, Crayonala atau Crayon Bahan Alam, crayon ini diinovasi menggunakan bahan yang aman, non-toksik dan ramah lingkungan. Bahan utama yang digunakan yakni beeswax atau lilin lebah. Beeswax sendiri merupakan lilin alami yang dihasilkan oleh lebah madu yang memiliki tekstur padat namun dapat diformulasikan dengan pewarna alam, sehingga menghasilkan crayon yang bertekstur padat dan non-toksik.
Proses pembuatannya masih sederhana, menggunakan peralatan tradisional, beeswax dipanaskan. Kemudian dicampur minyak kelapa dan diaduk hingga menyatu. Setelah itu diberi pewarna makanan (pewarna kue), dicetak dan didiamkan kurang lebih setengah jam hingga mengeras.
Setelah jadi, Crayonala dikemas dengan kemasan bersahabat. Kertas pembungkus crayon menggunakan kertas bekas, sedangkan kemasannya menggunakan kantong furing mini yang praktis. “Semua bertujuan untuk menghemat penggunaan kertas dan plastic,” ujarnya.
Respons dari masyarakat cukup baik, terkadang hingga kewalahan karena skala produksi masih terbatas. Dengan proses homemade, rata-rata produksi 150 kemasan per bulan dan dibandrol dengan harga Rp 12.000 isi 8 warna. Berbekal promosi dari mulut ke mulut, memanfaatkan media social, tidak sedikit pemesan yang berasal dari luar kota dan luar pulau.
Menurut Monika, kebanyakan pemesan merupakan ibu-ibu untuk anak balita maupun anaknya yang bersekolah. “Kami nggak nyaka, awalnya kami kira nggak bakalan laku, tapi kini malah kewalahan. Memperhatikan komposisi, crayon ini lebih bersahabat,” ujarnya.
Saat ini produksi dilakukan berkala setiap bulan dengan sistem pre-order. Karena waktu produksi terbatas, dan beberapa alat produksi yang rusak. “Terkadang waktu kita ketemu juga sulit, karena kami berasal dari jurusan yang berbeda-beda. Makanya, kadang agak susah kumpul,” tambahnya. (laz/ong)