Hendra Darmawan, M.A
Dosen PBI FKIP Universitas Ahmad Dahlan,
Wakil Ketua MPK PWM DIY
ALFARUQI (2009) menerangkan bahwa Arab sebelum Islam datang menempatkan ramadhan sebgai bulan suci (Holy Month). Mereka menyepakati bulan itu sebagai bulan pembekalan spiritual sehingga mereka menghentikan peperangan, perdamaian terjaga, pengiriman barang dan jasa melewati medan pasir juga aman, perburuan dihentikan lalu mereka kembali ke rumah masing-masing untuk laku hening, berkonsentrasi, bermeditasi dan atau menyusuri gua. Bahkan Muhammad sebelum kerasulan juga melakukan uzlah menyendiri di gua hira. Sehingga setelah Islam datang, Tradisi itupun dilanjutkan hingga perintah puasa disayriatkan dalam Islam sejak tahun kedua Hijriah. Menurut Alfaruqi, ada dua pesan pokok dalam pelaksanaan ibadah puasa yaitu disiplin diri dan empati sosial dengan merasakan kelaraparan bumi (hunger of the earth). Terdapat dua pintu masuk untuk menjadi pemicu terjadinya kemunkaran, kemaksiatan yakni perut dan kemaluan/kebutuhan biologis. Dua hal tersebut dilarang untuk dilakukan saat seseorang berpuasa di bulan ramadhan meskipun diluar bulan ramadhan menjadi hal yang dihalalkan. Perut merupakan ancaman bagi kehidupan peribadi, sedangkan kebutuhan bilogis akan menjadi ancaman bagi kehidupan kolektif. Keduanya menjadi ancaman jika sesorang tidak terpenuhi melal;ui cara yang halal.Akhir-akhir ini kita banyak mendapatkan berita kriminalitas, mulai dari penjualan bayi murah, PSK on line, pembunuhan Angeline di Bali secara sadis dan lain-lain. Kesemuanya merupakan bukti bahwa mereka melaklukannya hanya karena mengedepankan kebutuhan perut dan kebutuhan biologis secara membabi buta. Benar apa yang pepatah bilang bahwa “World can fulfill human needs not human greed”, Dunia mampu memenuhi kebutuhan manusia tetapi tidak mampu memenuhi kerakusan manusia. Bonus demografi yang sudah di depan mata, jika pembentukan karakter manusia yang beriman dan bertaqwa tidak disiapkan, maka ancaman kehancuran akan muncul hanya karena segelintir manusia yang tamak dan rakus. Ayat yang popular membahas puasa adalah ayat 183 surat Al-Baqoroh. Sudah mafhum dipenghujung ayat disebutkan laallakum tattaqun -agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa. Kata laalla merupakan harfutta’lil- kata yang menunjukkan sebab akibat, artinya pencapaian menjadi muttaqin ada karena ibadah puasa. Selain itu, “laalla” merupakan “harfuttarajji”, kata yang menunjukkan harapan. Dalam bahasa yang lain, jika kita beribadah kepada Allah hendaklah kita berada dalam posisi “bainal khoufi warroja’ antara takut/khawatir dan penuh harapan. Sehingga kita tidak juga berlebihan percaya dirinya dan dalam waktu yang sama tidak juga putus asa. Posisi tengah-tengah itulah yang terbaik, melimpahkan segala keputusan dan penilaian pada Allah. Bediuzzaman Said Nursyi (2005), seorang mujaddid abad ke-20 yang sudah layak disejajarkan dengan mujaddid-mujaddid lainnya seperti Muhamamd Abduh, Afghani, Rashid Rida dan lain-lain menegaskan rahasia “Laala” dengan dua catatan bahwa ibadah yang disyariatkan oleh Allah dan terdapat dalam Alquran memiliki prasyarat. Yang pertama, adanya kesiapan (isti’dad) hamba atas apa yang diperintahkan oleh Allah. Yang kedua, adanya tujuan yang jelas (almaqsud) sehingga dengan kesiapan itu menggugah orang lain yang melihatnya untuk melakukan ibadah tersebut. Tujuan dari ibadah puasa adalah Taqwa, berarti kamaluttaqwa-taqwa yang penuh dengan kesempurnaan. Kesempurnaan itu diraih melalui persiapan-persiapan. Dalam tradisi Muslim Indonesia, kita dapati persiapan penyambutan Bulan Ramadhan mulai dari penentuan awal bulan melalui siding Istbat, pembentukan panitia ramadhan, pengajian songsong ramadhan, festival ramadhan dan lain-lain. Ekspresi kebudayaan tersebut disemarakkan dalam rangka memper-siapakan penyambutan bulan romadhan, bulan yang suci. (*)