JOGJA – Sidang dugaan korupsi dana hibah KONI Kota Jogja dengan terdakwa Iriantoko Cahyo Dumadi, kembali digelar kemarin (1/7), dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi. Dalam kesaksiannya, Kepala Dinas Pajak Daerah dan Pengelolaan Keuangan (DPDPK) Kota Jogja, Kadri Renggono menerangkan bahwa penggunaan dana hibah KONI Kota Jogja 2012 salah, karena menyalahi aturan yaitu Permendagri 32 Tahun 2011 dan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD).
‪”Penggunaan dana hibah tidak sesuai proposal,” kata Kardi pada sidang yang dipimpin Hakim Ketua Suyanto SH, kemarin.
Saat itu, Pemkot Jogja mengalokasikan dana hibah kepada KONI Jogja sebesar Rp 11,2 miliar. Sebagian diteruskan kepada PBVSI yaitu tahap I sebesar Rp 646 juta. Namun, dana tersebut ternyata diberikan kepada klub voli profesional Yuso. ‪”Sesuai Permendagri 32/2011, klub profesional tidak boleh diberi dan menerima hibah,” tandas Kardi.
Sesuai LHP BPK DIJ, penggunaan dana hibah KONI Jogja terindikasi penyimpangan yang berbunyi penggunaan dana hibah untuk performa PBVSI, tapi justru digunakan untuk biayai klub Yuso ikuti kompetisi Pro Liga 2012. ‪”Temuannya Rp 287,4 juta untuk biayai Yuso dan Rp 250 juta belum jelas penggunaannya,” papar Kadri.
‪Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pungkie Kusuma Hapsari SH mengatakan, dana Rp 250 juta yang menjadi temuan BPK itu dikucurkan ke klub sepak bola PSIM. ‪”Uang Rp 250 juta dikucurkan ke klub PSIM yang dipakai untuk bayar gaji pemain,” kata Pungkie.
‪Penasihat Hukum Iriantoko, Bastary Ilyas SH mengatakan, keterangan saksi hanya terkait administrasi dan mekanisme pencairan. Menurutnya tak ada kaitannya dengan peran terdakwa dan tak ada efek untuk pembuktian peran terdakwa. ‪”Jika ada peran terdakwa, silakan sebutkan,” kata Bastary. (mar/jko/ong)