SLEMAN- Belum turunnya ijazah SMP sebagian siswa menjadi kendala proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA negeri hari pertama kemarin (1/7). Beda dengan tahun lalu yang cukup dengan surat keterangan hasil ujian (SKH UN). Kali ini, calon siswa harus menyerahkan fotokopi ijazah sebagai syarat pendaftaran di sekolah yang dituju.
Syarat tersebut memaksa Reni Hendriyani,41, menunda pendaftaran puterinya di SMAN 1 Pakem karena syaratnya kurang lengkap. “Padahal, saat sosialisasi cukup pakai SKH UN asli atau kartu keluarga,” ungkap warga Wonokerso, Hargobinangun, Pakem.
Kepala SMAN 1 Pakem Agus Santosa mengatakan, fotokopi ijazah asli merupakan syarat yang ditentukan dalam petunjuk teknis PPDB Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora). Calon siswa yang belum memegang ijazah, disyaratkan mengurus surat keterangan dari SMP asal. Bahwa, ijazah siswa bersangkutan belum jadi.
Penundaan pendaftaran juga dialami para siswa dari madrasah tsanawiyah. Mereka memang telah menerima ijazah, tapi SKH UN belum diserahkan oleh pihak sekolah.
Kepala Disdikpora Arif Haryono menilai saat ini situasinya belum normal. Nah, syarat fotokopi ijazah asli itu seharusnya diterapkan jika kondisi normal. Maksudnya, semua tahapan kelulusan telah dilalui siswa. Termasuk menerima ijazah dan SKH UN. “Seharusnya (pendaftaran) cukup dengan SKH UN asli,” tegasnya.
Menurut Arif, kasus ijazah terjadi pada lulusan SMP lantaran blangko dari pemerintah pusat belum diterima pihak sekolah sampai kemarin.
Kondisi itu berdampak belum maksimalnya jumlah pendaftar di SMA. Jumlah pendaftar baru separo dari total kuota tersedia di tiap sekolah negeri. Ditambah lagi, sebagian besar orang tua siswa justru sengaja mengulur waktu. “Lihat-lihat situasi dulu sambil melirik hasil nilai sementara,” ungkap Supriyono, 55, orang tua calon siswa di SMAN 1 Depok.
Sistem riil time online (RTO) memungkinkan calon peserta memantau pergerakan nilai setiap hari. Guna memantapkan hati saat mendaftar di sekolah tujuan. Sebab, setiap calon siswa hanya memiliki satu kali kesempatan mendaftar untuk memilih dua sekolah. Jika dua pilihan meleset, konsekuensinya harus pindah sekolah. Calon siswa tak bisa lagi mendaftar di 17 sekolah negeri yang menerapkan sistem RTO.
Hasil seleksi hari pertama menunjukkan, SMAN 1 Kalasan paling diminati, dengan 187 pendaftar dari 224 kuota tersedia. Sebaliknya, peminat paling sedikit di SMAN 1 Cangkringan. Sebanyak 35 peserta dari total kuota 96 kursi. Nilai rata-rata UN tertinggi di SMAN 1 Pakem, yakni 389 dan terendah 163 di SMAN 1 Turi.(yog/din/ong)