Duka mendalam terasa di kediaman Serda Agung Budiarto, 25, di Desa Sendangtirto RT 4 RW 12, Berbah, Sleman. Sebuah terpal biru terpasang di samping rumah pasangan Suwardi, 65 dan Watinem, 53, sejak kemarin pagi (1/7). Tetangga dan kerabat yang didominasi perempuan berkumpul di ruang tengah.
Dari luar rumah, sesekali terdengar suara ibunda Agung yang histeris. Tampak sekali dia shock ditinggal anak bungsu laki-laki satu-satunya itu. “Ya Allah…Agung, kenapa kamu ninggalin ibu nak,” ujar sang ibunda yang masih coba ditenangkan kerabatnya. Sesekali terdengar tangisan Watinemdari dalam rumah.
Sementara Suwardi terlihat lebih tenang. Namun tak dapat menampik, kepergian anak keempat dari empat bersaudara itu meninggalkan kesedihan mendalam. Satu-per satu kerabat yang datang dan pamit menyalaminya. Saat itulah air matanya banyak keluar.
Kowe ngerti dewe perjuangane anakku. Dongakno anakku diberi suwargo ing ngarsane Gusti Allah (kamu tahu sendiri perjuangan anakku, doakan diberi surga di sisi Allah, Red),” katanya kepada tetangga yang menyalaminya.
Masih terlintas di ingatan Suwardi saat ia mengantarkan Agung untuk berangkat tugas, Senin (29/6) lalu. Saat itu di Bandara Adisutjipto dia melepas Agung menuju Halim Perdana Kusuma untuk selanjutnya menuju Natuna untuk melaksanakan tugas negara.
“Terakhir ketemu Senin kemarin waktu mengantar ke bandara. Dia sudah setahun di Natuna, kemarin baru libur satu bulan dan mau berangkat lagi. Dia ndak sempat bilang apa-apa, karena anaknya memang pendiam,” tuturnya kepada wartawan.
Duduk di kursi depan rumahnya, Suwardi yang mengenakan kemeja merah berpadu dengan sarung hijau lumut, terlihat sangat lelah. Dia mengaku terus memantau dan menunggu kedatangan jenazah putranya itu.
“Saya sudah ikhlas. Saya tidak ada firasat apa-apa, dia anaknya memang pendiam. Nanti datang jam berapa pun akan langsung dimakamkan di pemakaman sini,” ungkapnya.
Selain keluarga dan kerabat, masyarakat di sekitar rumah Agung ikut kehilangan anggota kesatuan Satrad 212/Ranai Kosekhanudnas I itu. Di masyarakat, Agung dikenal pribadi yang baik. Sebelumnya dia juga diketahui sempat mengajar anak-anak ilmu agama di TPA setempat.
Suasana lebih lengang terlihat di rumah Kopda Saryanto, 38, di Dusun Kalongan RT 2/4, Maguwoharjo, Depok, Sleman. Di bagian depan rumah hanya ada karangan bunga dari SMK Penerbangan Adisutjipto. Kerabat dan keluarga lebih banyak berada di bagian belakang. Beberapa anggota TNI AU bersiaga di rumah sebelah rumah duka. Bertindak sebagai penerima tamu kakak Saryanto, Muryanto, 43.
Muryanto mengungkapkan, dia pertama kali mengetahui peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa adiknya dari istri Saryanto, Anna Werdiningsih, 30, Selasa siang. Anna mengatakan suaminya ikut dalam rombongan pesawat Hercules yang jatuh di Medan itu.
“Saat itu saya belum yakin. Kita tunggu daftar korbannya, Magrib ternyata baru muncul. Dari Paskhas juga ada petugas yang ke sini, mengabarkan adik saya mendapat kecelakaan,” katanya kepada Radar Jogja.
Keberangkatan adiknya naik Hercules menuju tempat tugasnya yang baru di Natuna. Sebelumnya, anak ke-9 dari sembilan bersaudara itu bertugas di Pekanbaru Riau, bahkan sudah memiliki rumah di tempat itu.
Selain meninggalkan seorang istri, Saryono juga meninggalkan putri perempuannya yang baru berusia 7 bulan, Jasmin Alia Afifah. Saryono dan Anna sudah menikah lebih dari lima tahun, dan baru setahun terakhir berbahagia mendapatkan momongan.
Dia terakhir ke Jogja bulan Mei lalu, saat menjemput istri dan anaknya untuk tinggal bersama di Pekanbaru. “Istrinya asli Sambilegi, Maguwoharjo, melahirkannya di sini. Setelah anaknya cukup besar, baru dijemput Mei kemarin,” ungkapnya.
Diceritakan Muryanto, adik bungsunya itu memang berkeinginan menjadi tentara TNI AU sejak SMP. Saat itu kakaknya, Sudiyono, juga mengenyam penididikan di AURI. Namun saat penerbangan dari Jakarta menuju Bandung pada 5 Oktober 1991, dia menjadi korban kecelakaan pesawat Hercules C-130. “Dia lihat seragam kakaknya, dia kepingin juga seperti kakaknya itu. Alhamdulillah sekarang sudah kesampaian, sayangnya nasibnya juga sama,” ujarnya.
Dia memperlihatkan tiga pigura di tembok ruang tamu. Di bagian kiri adalah gambar Sudiyono, di bagian tengah ayahnya alm Pawiro dan di bagian kanan Saryono. “Tiga-tiganya sudah ndak ada semua,” imbuhnya
Ijin Sekolahkan Anak
Jadi Percakapan Terakhir
Duka mendalam juga dirasakan keluarga Mudjijono, warga Desa Derwolo, Pengasih, Kulonprogo. Dia adalah ayah kandung Kopda Eria Ageng, anggota Paskhas TNI AU Batalyon 462 Pekanbaru, Riau, yang ikut menjadi korban kecelakaan pesawat Hercules.
Mudjijono sendiri masih terlihat bingung sekaligus pasrah. Ia mengaku masih tidak percaya dengan kabar duka yang diterimanya. Ia juga tidak menyangka jika percakapan lima hari lalu memalui telepon dengan putra bungsunya itu, merupakan percakapan terakhir dengan almarhum.
“Lima hari yang lalu, Eria menelepon untuk meminta restu ingin menyekolahkan anaknya di Pekanbaru. Saya benar-benar tidak menyangka dan seolah masih tidak percaya kalau dia sudah tiada,” ucap Mudjijono kemarin (1/7).
Dia mengungkapkan, Selasa malam (30/6) keluarga cemas dan sibuk mencari informasi insiden jatuhnya pesawat TNI AU. Mujiono juga terus mencari kepastian apakah anaknya masuk dalam kru pesawat, dan jika ikut lantas bagaimana kondisinya. Hingga kabar dari istri korban, Tia Mukti, yang diteruskan oleh Sri Yuliestri (kakak kandung Kopda Eria Ageng) laiknya petir di siang bolong.
Mudjijono yang baru-baru ini tinggal di Desa Demangrejo, Sentolo, langsung bergegas pulang ke Pengasih untuk memastikan kabar duka itu. Kurang yakin, Mujiono bahkan sempat bertanya ke Mapolsek Pengasih untuk memastikan kebenaran informasi kecelakan peswat Hercules C-130 di Medan.
Kakak perempuan Kopda Eria Ageng, Sari Yuliestri menimpali, adiknya adalah pribadi yang sangat perhatian terhadap keluarga. Enam bulan lalu Kopda Eria Ageng bahkan sempat pulang dan memberikan uang agar keluarga di Kulonprogo bisa terbang ke Pekanbaru.
“Tapi belum kesampaian, ternyata sudah ada kejadian seperti ini,” ujarnya seraya tak kuasa meneteskan air mata kesedihan.
Mudjijono menuturkan, jenazah anaknya akan dimakamkan di Pekanbaru, Rabu (1/7) sore, sesuai permintaan istri dan anaknya. Mudjijono dan keluarga di Kulonprogo sebetulnya sempat diminta datang ke Pakanbaru untuk mengikuti prosesi pemakaman. Namun ia hanya bisa pasrah, lantaran tidak memiliki biaya untuk ke Pekanbaru.
“Saya sebetulnya ingin anak saya dimakamkan di Pengasih. Namun istrinya menginginkan dimakamkan di Pekanbaru. Kami sebetulnya disuruh berangkat sore ini, tapi sedikit pun kami belum memiliki biaya untuk perjalanan udara,” tuturnya.
Hingga kemarin (1/7) Mujiono bersama keluarga besarnya masih berembuk, sambil menunggu kemungkinan ada bantuan fasilitas penerbangan dari kesatuan TNI menuju Pekanbaru.
Kopda Eria Ageng merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara hasil pernikahan Mujiono dan almarhumah Wijisoyem. Eria kecil dulu tinggal di Pengasih. Ia sekolah di SDN Pengasih 1, kemudian melanjutkan di SMP Kanisius Wates, dan menampatkan bangku STM Marsudi Luhur Wates, sebelum melanjutkan pendidikan TNI AU di Solo selama enam bulan.
Kopda Eria Ageng kemudian dipindah ke Bandung selama setahun. Sekitar 2004, Eria ditugaskan ke Pekanbaru sampai sekarang. Hasil pernikahannya dengan Tia Mukti, telah dikaruniai satu anak yang diberi nama Nayla Sakti Ageng, yang usianya kini masih lima tahun. (cr3/tom/laz/ong)