SETIAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA
PENGHORAMATAN TERAKHIR: Jenazah para korban Hercules C-130 yang jatuh di Medan saat tiba di Lanud Adisutjipto, kemarin (2/7).
SLEMAN – Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya delapan jenazah (bukan tujuh) korban jatuhnya pesawat Hercules C-130 di Medan, tiba di Lanud Adisutjipto, Kamis (2/7) pukul 12.48 WIB. Delapan jenazah tersebut, yaitu Kopda Mujiman, Pratu Warsiyanto, Serda Agung Budiarto, Lettu Pandu Setiawan, Kopda Saryanto, Prada Alfian Zulfikar, Sertu Pasukan Irianto Sili, dan Serka Sutrisno.
Dari delapan jenazah tersebut, enam di antaranya dimakamkan di DIJ, sementara Sertu Irianto Sili hanya transit dan selanjutnya diterbangkan ke Biak, Papua dengan pesawat TNI AU jenis Boeing 737. Sedangkan Serka Sutrisno setelah tiba di Lanud Adisutjipto, langsung dibawa ke Solo melalui jalan darat.
Kepala Pusat Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Adisutjipto, Mayor Hamdi Londong menuturkan, delapan jenazah tersebut diterbangkan dari Halim Perdanakusuma menuju Adisutjipto menggunakan pesawat Hercules A-1326. “Iya, jenazah dikirim dengan menggunakan pesawat Hercules dari Jakarta,” katanya pada wartawan, Kamis (2/7).
Sebelum kedelapan jenazah diturunkan dari pesawat, terlihat keluar dari pesawat, istri dari Kopda Saryanto. Tampak beberapa kerabatnya ikut mendampingi istri korban yang berasal dari Dusun Kalongan, Maguwoharjo, Sleman tersebut. “Kami keluarga yang dari Kalongan,” kata perempuan seorang anggota TNI AU yang juga ikut mendampingi.
Kedatangan pesawat langsung disambut dengan upacara militer. Bertindak sebagai inspektur upacara Danlanud Adisutjipto, Marsma Imran Baidirus. Tampak hadir pula dalam upacara penyambutan jenazah di base op Lanud Adisutjipto sejumlah pejabat yaitu Gubernur AAU Masrda TNI Abdul Muis, Wagub AAU Masma Wahyu A Jaya, Karuspol TNI AU Harjolukito, Beni Tumbeleka, serta Mantan Kasau Marskal Purn Subandrio.
Selain itu juga terlihat beberapa keluarga korban yang ikut menyambut dan sudah menunggu di sekitar lokasi sebelum upacara dimulai. Upacara sendir berlangsung singkat. Setelah dibacakan nama-nama jenazah yang diturunkan dari pesawat, selanjutnya peti jenazah korban Hercules itu dibawa ke delapan mobil jenazah yang telah disiapkan. Seusai upacara jenazah langsung dimasukkan ke mobil untuk dibawa ke rumah korban masing-masing.
“Ada beberapa permintaan dari keluarga, ada yang minta langsung dibawa ke pemakaman, ada yang dibawa ke rumah. Kopda Eria Ageng yang berasal dari Kulonprogo karena permintaan istri akhirnya dimakamkan di Pekanbaru Riau,” tambah Londong. Selain itu sebagai penghormatan kepada korban tewas, sesuai instruksi Panglima TNI Jenderal Moeldoko, seluruh tiang bendera di lingkungan Lanud Adisucipto mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung.
Sementara itu, proses pemakaman Lettu Penerbang Pandu Setiawan di Dusun Patukan, Ambarketawang Gamping, Sleman berlangsung haru. Jenazah yang tiba di kediaman ayahnya Sugeng Prayitno, sekitar pukul 14.00 itu langsung disambut ratusan pelayat yang hadir. Tenda di depan rumah duka juga dipenuhi karangan bunga dari para pejabat baik, dari tingkat pusat maupun dari pemerintahan provinsi dan kabupaten.
Setelah disalati sebanyak dua gelombang, istri almarhum Pandu Setiawan, Dewi Wulandari tak henti-hentinya menangis memeluk peti mati yang berisi jenazah suaminya. Perempuan yang mengenakan jilbab hitam itu bahkan harus ditenangkan oleh keluarga dan kerabatnya. Ibunda korban Sri Haruni juga tak kuasa menahan kesedihan. Berkali-kali dia menyeka air matanya saat nama anaknya berkali-kali disebut.
Jenazah Lettu Pandu dilepas dengan upacara militer setelah diserahkan dari keluarga. Hadir pula dalam upacara persemayaman jenazah, Bupati Sleman Sri Purnomo. Berlaku sebagai inspektur upacara Danlanud Imran Baidirus. “Atas nama bangsa dan Negara Indonesia, saya terima jenazah Lettu Pandu Setiawan untuk dimakamkan secara militer,” tegasnya.
Lettu Pandu dikebumikan tak jauh dari kediamannya. Dia dimakamkan di makam keluarga yang hanya berjarak sepelemparan batu dari selatan rumahnya, tepatnya di Pemakakam Pule Gamping.
Ayah Lettu Pandu, Sugeng mengatakan, keluarga menghendaki dimakamkan dekat dengan rumah, meski ditawarkan dimakamkan di taman makam pahlawan. “Makam keluarga lebih dekat dengan rumah, taman makan pahlaman terlalu jauh. Keluarga juga berhak untuk menolak meski ditawarkan di taman makam pahlawan,” tutur Sugeng seusai pemakaman.
Dalam kenangan Sugeng, putranya itu adalah anak yang taat kepada agama, orang tua dan sangat berbakti kepada keluarga. Dia juga selalu disiplin dan terlihat bangga saat menjadi anggota penerbang TNI AU. “Kami sekeluarga jelas sedih, karena putra kami pulang terlalu cepat, namun itu sudah kehendak Tuhan. Didoakan semoga meninggalnya khusnul khotimah,” imbuhnya.
Menurut Sugeng, Pandu sejak kecil memang berkeinginan menjadi seorang pilot dan itu berjalan lancar karena dia tergolong anak yang pandai. “Karena itu keluarga mendukung sepenuhnya,” tandasnya. (cr3/jko/ong)