YOGI ISTI PUJIAJI/Radar Jogja
BINGKISAN LEBARAN: Kades Kepuharjo Heri Suprapto menyerahkan bingkisan Lebaran secara simbolis kepada warga penghuni Huntap Pagerjurang, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Rabu (1/7).

Kompak Bangun Desa Mandiri, Bagi Deviden Tiap Ramadan

Menambang pasir menjadi mata pencaharian utama turun-temurun sebagian besar warga lereng Gunung Merapi wilayah Sleman. Dari hasilnya bergulat dengan pasir dan batu, para korban erupsi 2010 tersebut saling berbagi, tanpa kecuali. Hasilnya dibagikan setahun sekali di Bulan Ramadan.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
SUASANA Ramadan cukup hangat terasa di Huntap (Hunian Tetap) Pagerjurang, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, DIJ. Mereka merupakan warga korban erupsi Merapi 2010 yang kini sudah kembali bangkit.
Rabu (1/7) lalu, di sebuah kampung, tepatnya di Pagerjurang, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Jogjakarta tampak bahu membahu mempersiapkan sebuah pengajian rutin setahun sekali di bulan Ramadan.
Alunan syair tembang-tembang bernuansa keagamaan terdengar mengalun di tengah kerumunan warga sejak siang hingga petang hari. Itu lah kesempatan warga menggelar pengajian bersama. Dan malam harinya, mereka disibukkan dengan kegiatan tarawih keliling desa.
Kegiatan pengajian di bulan Ramadan menjadi momen yang ditunggu-tunggu warga setempat. Karena saat itu lah warga memperoleh “deviden” atas pengelolaan lahan pribadi yang di atasnya penuh tumpukan pasir muntahan erupsi Merapi. Tradisi tersebut merupakan cara warga Kepuharjo saling berbagi.
Salah satunya dilakukan warga Dusun Petung. Bukan hanya pembagian bingkisan dan uang sekadarnya, sebagaimana banyak warga lainnya bersedekah, terima THR atau terima zakat. Tapi ini pembagian deviden. Disebut deviden, karena jumlahnya juga tidak sedikit, dan merupakan pengumpulan selama satu tahun.
Ya, selama setahun, mulai dari Ramadan tahun lalu hingga bulan Puasa saat ini, sebagian dana hasil pengelolaan lahan oleh seluruh warga di sana disisihkan untuk kegiatan sosial. Tujuan utama pengumpulan dana tersebut, sebenarnya sebagai uang cadangan tak terduga kepentingan warga, seperti untuk membantu kaum lansia, orang sakit, serta penyehatan balita. Namun juga disisakan untuk pemeliharaan infrastruktur.
Dari semua dana tersebut, biaya terbesar, memang untuk pembangunan infrastruktur yang rusak akibat erupsi. Seperti membangun jalan dan jembatan. Meski demikian tetap disisakan untuk pembagian ketika Ramadan tiba. “Pegawai negeri, tentara, polisi, atau warga biasa, semua dapat sama rata,” tutur Kepala Desa Heri Suprapto.
Ibarat mendapat rezeki nomplok, warga huntap menyambut secara suka cita. Tak tanggung-tanggung, setiap kepala keluarga berhak atas bantuan dana sebesar Rp 2,5 juta plus bingkisan senilai Rp 500 ribu. Jatah itu dibagi rata kepada 120 KK warga Petung. “Intinya untuk membangkitkan perekonomian warga, sekaligus membantu mereka ber-Lebaran,” lanjut Heri.
Semua kegiatan itu tak lepas atas peran sekumpulan anak muda desa setempat. Mereka menamakan diri “Kompak Group”. Heri menyebut, istilah “kompak” berawal rasa kepedulian anak-anak muda dan tokoh masyarakat untuk membangun desa pascaerupsi. Lantaran permohonan bantuan kerap ditolak oleh pemerintah, warga gumregah berusaha membangun desa secara mandiri. Menggunakan sebagian dana dari hasil refungsi lahan pribadi milik masing-masing warga.
Aktivis “Kompak Group” Yuli Rahmad mengaku kebangkitan warga menjadi titik tolak semangat untuk membangun desa kembali. Setelah luluh lantak akibat erupsi 2010, Kompak menjadi sarana para pemuda untuk melangkah. Agar setiap gerakan tidak berkesan individual. “Karena setiap hasil yang diperoleh juga untuk kebersamaan,” ujarnya.(din/jko/ong)