DWI AGUS/Radar Jogja

Perempuan Hebat adalah Sosok Lemah Lembut

Diciptakan alam pria dan wanita… Dua makhluk jaya asuhan dewata… Ditakdirkan bahwa pria berkuasa… Adapun wanita lemah lembut manja… Wanita dijajah pria sejak dulu… Dijadikan perhiasan sangkar madu… Namun adakala pria tak berdaya… Tekuk lutut disudut kerling wanita.
DWI AGUS, Bantul
Lirik lagu yang dipopulerkan Hendri Rotinsulu ini mengalun indah di Auditorium Jurusan Tari ISI Jogjakarta, Minggu malam (28/6). Ditemani cahaya temaram, Angeline Rizky Emawati Putri menyanyikannya dengan penuh penghayatan. Sembari meringkuk, ia melantunkan lagu dengan nada yang syahdu.
Lagu berjudul Sabda Alam ini merupakan bagian dari karyanya yang berjudul Wetan Nok. Karya ini bukanlah musik, melainkan komposisi tari modern. Karya ini menceritakan tentang perjuangan dan peran perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
“Wetan sendiri bukan penunjuk arah melainkan akronim dari Waktu, Emansipasi, Tubuh, Asa dan Nalar. Terinspirasi dari sosok penjual kopi pangku di daerah pesisir utara Jawa Timur. Tepatnya di Sukodono, Sidoarjo,” ungkapnya seusai pementasan.
Wanita yang akrab disapa Punyik ini mengungkapkan, kopi pangku merupakan fenomena lawas. Di mana seorang perempuan menjadi penjaja kopi di beberapa warung. Namun tidak hanya menjajakan kopi, para perempuan ini juga menjajakan kenikmatan sesaat.
Istilah kopi pangku sendiri berasal dari wujud perempuan yang dipangku saat melayani pembeli kopi. Fenomena ini, menurut Punyik, tidak hanya ada di Sidoarjo. Daerah pesisir utara lainnya seperti Lamongan dan Gresik juga kerap ditemui.
Namun dalam kesempatan ini Punyik tidak fokus menyoroti fenomena ini. Ia justru mengangkat perjuangan dari para perempuan penjual kopi ini. Bagaimana mereka menjadi kuat dan menjadi kekuatan bagi keluarganya.
“Tidak hanya sekadar menghadirkan fenomena sosial yang dilihat ke atas panggung. Lebih pada penghayatan dan perenungan bahwa sosok perempuan itu disadari atau tidak, merupakan kekuatan bagi siapa pun dan apa pun. Dalam bentuk apa pun untuk mewujudkannya,” ungkapnya.
Perempuan kelahiran Surabaya 5 September 1991 ini mewujudkan konsepsi Wetan dalam karyanya. Bagaimana akronim dari Waktu, Emansipasi, Tubuh, Asa dan Nalar menjadi bagian dari perempuan. Dari perenungan inilah dirinya menciptakan karya dengan ragam gerak tari modern.
Menurutnya, seorang perempuan memiliki kekuatan untuk mewujudkan mimpinya. Terlepas bagaiman cara untuk meraihnya, tetaplah memiliki nilai perjuangan. Meski mendapatkan hinaan, perjuangan untuk keluarga patut dihargai.
“Saya melihat ada sebuah perenungan dari fenomena ini. Untuk menjadi kuat itu bukan hanya perkara fisik. Tapi bagaimana ada keberanin dari diri sendiri untuk berjuang demi hidup. Menata diri, mengaktualisasikan diri dalam bentuk sikap nyata,” katanya.
Itulah mengapa di awal pertunjukan Punyik menyanyikan tembang Sabda Alam. Menurutnya dalam tembang ini menggambarkan bagaimana kekuatan seorang wanita sesungguhnya. Meski sosok pria terus menggencet, ada kalanya berlutut di hadapan perempuan.
Lirik inilah yang menjadi perwujudan seorang penjual kopi pangku. Punyik mengungkapkan bukan melihat secara realitas, namun melalui simbol-simbolnya. Melalui lagu ini pula dirinya ingin menegaskan bahwa perempuan bukanlah lembut.
Definisi lembut, menurutnya, kerap disalahartikan menjadi tak berdaya. Sehingga rentan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Dalam konteks ini ia menggambarkan perempuan sebagai sosok yang cenderung lemah lembut.
“Lemah dan lemah lembut sangatlah berbeda makna dan artinya. Lemah lembut merupakan sebuah kekuatan yang dimiliki perempuan. Dengan cinta kasihnya yang merupakan kekuatan tanpa harus mengedepankan kekuatan fisik. Dalam karya ini pula saya bercerita perjuangan ibu saya, sosok yang juga tercemin dalam karya ini,” tuturnya.
Nilai-nilai ini terbagi menjadi empat adegan dalam karya Punyik. Adegan pertama dibuka dengan cahaya temaram dengan nyanyian Sabda Alam. Adegan intro ini menceritakan tentang kebangkitan. Diawali dengan gerak di level panggung rendah menuju ke tengah panggung.
Kedua menceritakan bahwa perempuan sejatinya membutuhkan kekuatan lain. Ini adalah pendamping sosok pria untuk melengkapi kekuatan ini. Namun dalam adegan ini pula lahir sebuah konflik saat perempuan merasa kuat dengan sendiri.
Adegan ketiga adalah gambaran seorang perempuan telah menjadi kekuatan dalam hidup. Diwujudkan dengan mampu menjalani dan memiliki perjalanan kehidupan. Lalu ditutup dengan perwujudan akronim Wetan melalui olah gerak tubuh.
“Tujuannya membuka bahwa perempuan bisa menata diri. Memang terkadang dituntut mandiri, tapi ada kalanya membutuhkan sosok lainnya. Ditandai dengan gerak head stand simbol dari kekuatan. Tapi yang harus diingat perempuan juga butuh kekuatan lainnya untuk bertahan,” katanya.
Dalam karyanya kali ini Punyik melibatkan enam penari lainnya. Selain menciptakan koreo, dirinya juga terlibat langsung sebagai penari. Mengedepankan gerakan tari modern dengan berbagai representasi pemaknaan Wetan Nok.
Gerakan yang diusung pun cenderung gerak mengalun. Gerakan ini selain jati diri Punyik juga untuk menguatkan tema karya. Selain itu ia juga mengusung ragam musik modern sebagai iringan musiknya. Lengkap dengan permainan tata cahaya lampu yang terkonsep.
“Di balik ini semua lega rasanya telah mewujudkan karya ini. Tidak menampik pasti setiap penonton memiliki persepsi yang berbeda. Tidak perlu berbicara secara verbal, tapi menarilah. Karena terkadang dengan gerak tari, semuanya menjadi indah untuk diceritakan,” tambahnya. (laz)