GUNAWAN/RADAR JOGJA
DIAMANKAN: Petugas menemukan bahan makanan kedaluwarsa di pasar tradisional Playen kemarin (6/7). Selain itu, petugas mengambil sejumlah sampel makanan untuk diteliti lebih lanjut.
SEMENTARA ITU, petugas gabungan menemukan bahan makanan kedaluwarsa beredar di pasar tradisional di Kecamatan Playen. Tidak hanya itu, petugas juga mengamankan sampel makanan yang dicurigai mengandung zat berbahaya.
Sidak gabungan melibatkan Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan ESDM, Satpol PP dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Gunungkidul. Sidak berlangsung kemarin (6/7). Hasilnya, ditemukan makanan berupa tepung siap saji tidak layak konsumsi, karena batas jaminan produsen terhadap kualitas produk telah melewati tanggal dan tahun. Diketahui, bahan makanan itu sudah kedaluwarsa sejak Januari 2015.
“Tolong ya bu, kalau sudah kedaluwarsa jangan dijual, sangat berbahaya jika dikonsumsi. Tolong segera dipilih dan singkirkan bahan makanan tidak layak konsumsi,” seru Kepala UPT Laboratorium Dinkes Gunungkidul Nila Batika kepada pedagang.
Selain menemukan bahan makanan kedaluwarsa, dalam sidak kemarin petugas mengambil sampel berbagai bahan makanan mulai dari ikan laut, cendol, kerupuk, kikil, tahu, hingga daging. Sampel tersebut akan diteliti di laboratorium. Menurut Nila, hasil uji laboratoroium terhadap sejumlah bahan makanan bisa diketahui setelah dua sampai tiga hari ke depan.
“Kami curiga, karena secara fisik warna bahan makanan ini cukup mencolok. Kita curigai ditambahi rodhamin atau metanil yellow. Kita mewaspadai apakah ditambahi formalin atau tidak,” ujarnya.
Kepala Seksi Distribusi dan Perlindungan Konsumen Disperindagop Gunungkidul Supriyadi mengatakan, kegiatan ini merupakan sidak gabungan terakhir menjelang lebaran. Namun demikian, secara mandiri pihaknya terus melakukan pemantauan. “Sebenarnya ini ranah adalah provinsi, namun untuk laporan pantauan harga juga dilakukan oleh daerah,” kata Supriyadi.
Disinggung mengenai harga kebutuhan, menurut Supriyadi hingga sekarang masih stabil. Kenaikan cukup mencolok hanya terjadi pada komoditas telur. Sebelumnya Rp 17.500 per kilogram sekarang naik menjadi Rp 19 ribu per kilogram. (gun/ila/ong)