SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
PELUANG USAHA: Kurma cokelat menjadi kudapan yang banyak menarik minat masyarakat. Selain unik, perpaduan kurma dan cokelat membuat rasanya semakin manis serta legit.
JOGJA – Kehadiran kurma di bulan Ramadan sudah menjadi suatu kekhasan tersendiri. Dengan rasanya yang manis dan legit, kurma dijadikan camilan berbuka. Terlebih, kurma diyakini kandungannya dapat mengembalikan stamina tubuh setelah seharian berpuasa.
Kurma tak hanya enak dinikmati apa adanya, tapi juga dikreasi menjadi camilan lainnya, menjadi cokelat kurma misalnya. Beberapa hari menjelang Ramadan, Pipit Yuni Roestiningsih, 34, memberanikan diri untuk memperkenalkan cokelat kurma lewat jejaring sosial. Camilan ini sendiri sudah tak asing bagi keluarganya, karena biasanya memang dijadikan kudapan buka puasa dan suguhan saat lebaran.
“Biasanya kalau puasa dan lebaran kita buat tapi dimakan sendiri. Tahun ini coba dijual, meski awalnya ya minder. Tapi saya beranikan diri tawarkan lewat medsos (media sosial),” ujarnya saat ditemui Radar Jogja di kediamannya di Jalan Juminahan No 1 Griya Bina Harapan 4D, Jogja, Senin (6/7).
Terinspirasi dari sebuah tayangan televisi, ibu dua anak ini penasaran dan mencoba mencari referensi resep lewat dunia maya. Setelah mencoba beberapa kali, dia berhasil menemukan resep yang pas dan keluarganyalah yang pertama kali menjadi juri rasa. Namun, baru Ramadan ini akhirnya dia mencoba membuat tapi untuk dijual. Selain lewat medsos, Pipit dibantu suami menawarkan ke lingkungan sekitar. Responsnya pun bagus, baik yang lewat medsos maupun yang dari mulut ke mulut.
“Sekarang malah banyak pesanan reseller dari luar Jogja, dari Rembang, Salatiga, Purworejo, Kendal, dan Muntilan. Dari awal puasa sampai sekarang terus menerus pesanannya,” ujarnya Pipit.
Pembuatan cokelat kurma yang diberi nama Kur Choc (Kurma Chocolate) ini menggunakan kurma lokal. Kurma yang sudah disortir ukuran dan kualitasnya, dihilangkan bijinya. Kemudian, biji kurma diganti dengan isian, seperti mete, keju dan cokelat leleh. Setelah diisi, kurma dilapisi cokelat dan dibiarkan membeku. Kemudian dikemas satuan menggunakan alumunium foil.
Dalam sehari, rata-rata istri Eko Sabekti ini bisa memproduksi lima hingga sepuluh kilogram cokelat kurma. Dijual dalam dua ukuran berat, yakni setengah kilogram dengan harga Rp 60 ribu dan seperempat kilogram seharga Rp 30 ribu.
“Produksi masih pakai alat sederhana, awalnya cuma dibantu suami dan anak. Tapi sekarang ada tiga orang dari lingkungan sekitar,” ujarnya.
Dia berharap, rezeki di bulan Ramadan ini bisa terus berlanjut. Sehingga tak hanya saat bulan Ramadan atau lebaran saja, tapi jadi mata pencaharian tambahan di bulan-bulan biasa. “Ya semoga habis lebaran masih ada yang pesan, jadi bisa lanjut terus,” ujar Pipit. (dya/ila/ong)