DWI AGUS/Radar Jogja
SLEMAN – Puluhan orang dari berbagai elemen masyarakat berkumpul di Beringin Sukarno, Universitas Sanata Dharma (USD), kemarin sore (6/7). Mereka terlibat dalam suatu proyek bertajuk Proyek Seni Indonesia Berkabung. Semuanya terlibat aksi seni dengan seniman Jogja sebagai tutor mereka.
Ke-10 seniman ini adalah Djoko Pekik, Nasirun, Edi Sunaryo, Titik Buchori, Melodia, Arahmaiani, Sigit Santosa, Andre Tanama, Laksmi Shitaresmi dan Bunga Jeruk Permata Pekerti. Menurut Koordinator Umum ST Sunardi, kegiatan ini merupakan wujud kepedulian terhadap bangsa.
“Proyek seni ini merupakan respons teman-teman seniman, akademis dan masyarakat atas kondisi Indonesia saat ini. Mulai dari situasi sosial hingga politik yang terjadi. Panasnya situasi belakangan ini, membuat kita tergerak untuk berbicara,” ungkapnya.
Menurutnya, semangat dan gairah para elite politik saat ini memprihatinkan. Mulai dari legislatif yang tidak fokus pada kebijakan masyarakat. Bahkan cenderung fokus pada kebijakan yang menguntungkan golongan dan partai pengusungnya.
Kedua, eksekutif dalam hal ini presiden yang tidak mulus menjalankan programnya. Selain dari jajaran kabinet juga permasalahan kontra politik yang terjadi. Terakhir adalah semakin menurunnya superioritas lembaga antirasuah KPK dalam memberantas korupsi.
“DPR mengesampingkan membuat UU kecuali untuk kepentingan sendiri seperti dana aspirasi dan gedung baru. Rencana pembangunan dari presiden dan kabinet yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Terakhir adalah bangkitnya KPK sebagai pemberantasan korupsi di Indonesia,” harapnya.
Itulah mengapa gerakan ini diawali dari ketiga elemen masyarakat dari seniman, akademisi dan masyarakat umum. Pemilihan tempat kampus merupakan wujud mengasah kepedulian para akademisi. Di mana sosok ini merupakan tokoh penggerakan perubahan dan kritis akan berbagai kebijakan.
Koordinator Pameran Agung Kurniawan menilai, gerakan multielemen ini sangatlah penting. Beberapa tahun belakangan ini bentuk kritis dari kalangan masyarakat. Sedangkan akademisi dan seniman justru menunjukkan penurunan nilai.
“Kondisi kampus saat ini cenderung pasif akan gerakan. Padahal ini menjadi ruang dan parsial penting bagi masyarakat. Selama ini ruang kampus terasa kosong dan ingin kita kembalikan seperti suasana beberapa tahun lalu,” kata pria yang akrab disapa Agung Leak ini.
Dalam kesempatan ini, partisipan melukis dengan tema umum Proyek Indonesia Berkabung. Menyikapi keadaan Indonesia saat ini melalui bentuk kritis seni. Para seniman pendamping pun sekadar mendampingi, bukan mengarahkan.
“Tidak memaksakan gagasan seniman, tapi memberikan gambaran. Sehingga para partisipan dapat berimajinasi tentang Indonesia saat ini seperti apa. Ke depannya juga akan ada beragam program hingga Desember mendatang,” kata Agung.
Selain USD, kegiatan ini juga akan diselenggarakan di UGM, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dan Pascasarjana ISI Jogjakarta. Ragam kegiatan meliputi lintas disiplin seni, baik seni rupa, seni teater, hingga seni musik. (dwi/laz/ong)