Menunggu Waktu Berbuka Puasa dengan Tarian ala Rumi

Pesantren identik dengan lembaga pendidikan yang mengajarkan beragam disiplin ilmu keagamaan. Tetapi, di Pesantren Maulana Rumi lebih fokus mengajarkan beragam keilmuan sufistik.
ZAKKI MUBAROK, Sewon
Suasana khas pesantren sangat kentara kala menginjakkan kaki di pesantren Maulana Rumi di Dusun Sewon, Timbulharjo, Sewon, Bantul, ini.
Jumat sore (3/7) itu sebagian santri tengah mempersiapkan menu buka puasa. Keakraban antarsantri sangat tampak kala mereka berbagi peran memasak menu buka puasa bersama. Sebagian ada yang menanak nasi. Sebagian lain ada yang memasak sayur dan menggoreng lauk.
Peralatan memasak yang mereka gunakan juga sederhana. Tungku dengan bara api yang menganga tampak di dapur umum pesantren yang berdiri pada awal 2012 ini, meskipun tabung gas elpiji saat ini mudah diperoleh.
Lain halnya di dapur umum, sebagian santri yang tak ikut mempersiapkan menu buka puasa bersama memilih mengisi waktu dengan bersholawat di bangunan utama pesantren yang letaknya persis di utara dapur umum.
Menariknya, tak hanya alunan lagu-lagu sholawat – puja-puji kepada Nabi Muhammad – nada-nada dari alat musik rebana yang dimainkan para santri juga diiringi tarian khas Timur Tengah. Namanya tarian Mawlawi.
Gerakan yang juga disebut dengan tarian Sama’ ini berbeda dengan tari-tarian lainnya seperti tarian tradisional Jawa. Tidak banyak variasi gerakan tubuh. Sang penari hanya memutar-mutarkan tubuhnya kekiri seperti thawaf atau melawan arah jarum jam dengan sesekali merubah posisi kedua tangan atau kepala. “Santri-santri sendiri yang meminta adanya tarian Mawlawi ini,” tutur pengasuh sekaligus pendiri pesantren Maulana Rumi Kyai Kuswaidi Syafi’ie.
Keahlian para santri menari ala darwis pengagum tokoh sufi tersohor Jalaluddin Rumi ini tanpa serta-merta. Sebab, berdirinya pesantren yang sebagian besar santrinya adalah santri kalong – santri yang tidak menetap – memang didorong kekaguman atas ajaran-ajaran Rumi. Ajaran-ajaran tokoh sufi yang hidup pada abad ke-12 masehi ini diyakini mampu menjawab kegelisahan spiritual.
Nah, dalam ajaran tarekat Mawlawiyah yang dipelopori Jalaluddin Rumi ini juga dikenal adanya tarian Mawlawi. Oleh pengikut tarekat Mawlawiyah, tarian ini digunakan sebagai salah satu bentuk media ritual berdialog dengan Tuhan. Tarian ini pula yang pernah diperagakan Jalaluddin Rumi ketika memasuki fase ekstase.
Namun demikian, Kyai Kuswaidi menegaskan, pesantren Maulana Rumi tidak menganut tarekat Mawlawiyah. Pesantren Maulana Rumi hanya mengkaji berbagai disiplin ilmu tasawuf karya berbagai tokoh sufi selain Rumi.
Selain kitab Matsnawi karya Rumi, pesantren Maulana Rumi juga mengkaji karya Ibnu Atho’illah As-Sakandari, dan Ibnu Arabi.
“Di luar Ramadan, pengajian setiap Selasa malam, dan Jumat malam. Saat pengajian ini ada pertunjukkan tari-tarian Mawlawi. Saat puasa setiap hari pengajiannya,” tuturnya.
Saat bulan puasa, peragaan tarian Mawlawi hanya dimanfaatkan untuk menunggu waktu berbuka puasa.
Menurutnya, seluruh santri atau jama’ah yang mengikuti pengajian di pesantren Maulana Rumi adalah orang dewasa. Sebagian merupakan dosen dan mahasiswa di Jogja. Sebab, kajian disiplin ilmu tasawuf seolah mensyaratkan adanya bekal keilmuan agama yang cukup.”Nggak ada kajian ilmu fiqh atau ilmu alat di sini,” ungkapnya.
Ini karena disiplin ilmu tasawuf diyakini mampu memberikan jawaban kegelisahan spiritual atas problematik kehidupan sehari-hari. Karena itu pula kajian ada yang dilakukan mulai pukul 01.00 dinihari hingga Subuh agar perenungan kian menyentuh hati.
Prasetyo Wibowo, salah satu santri pesantren Maulana Rumi menuturkan, dirinya cukup lama mengikuti kajian ilmu tasawuf di pesantren. Dia juga mengaku cukup lama dapat memeragakan tarian Mawlawi. Baginya, hanya ada tiga kunci dapat memeragakan tarian para darwis ini.”Berpasrah diri saat menari, latihan, dan ikhlas ketika melakukannya,” jelasnya.
Sebab, tak sedikit santri yang ingin belajar tarian Mawlawi mengalami pusing-pusing. Bagi yang dapat menerapkan tiga kunci tersebut bisa memeragakannya dalam hitungan hari.”Ada juga yang sampai tiga bulan baru bisa. Ada pula yang trauma karena pusing akhirnya berhenti latihan,” tutup santri asal Jepara ini. (din/ong)