JOGJA – Pelukis Ugo Untoro menolak disebut terlibat dalam tindakan penyemprotan Tugu Pal Putih dengan cat merah, Minggu (5/7). Sebelumnya, namanya disebut-sebut oleh Yit Kampak Mga, perempuan asal Ceko yang melakukan penyiraman cat ke Tugu. Perempuan yang diduga stres itu sempat diperiksa di Mapolresta Jogja sebelum akhirnya dibebaskan.
“Saya pelukis, dia pelukis kenalan pertama kali di FB sekitar 2012. Awal bulan Mei 2015, teman saya ada pameran dan saya yang membuka. Pernah ketemu dua tiga kali, ya cuma say helo aja,” kata Ugo kepada Radar Jogja kemarin (6/7).
Namun setelah pertemuan itu, Ugo mengaku sering di-SMS dan ditelepon oleh Yit berkali-kali. Akan tetapi dia tidak mengetahui tujuan perempuan tersebut menghubunginya. “Dia sering SMS, telepon yang ujungnya seperti neror saya. Saya disuruh datang ke rumahnya, dituduh ini itu menggangu kehidupannya, yang ndak jelas,” imbuhnya.
Jengah dengan ulahnya, dia kemudian minta dipertemukan dengan perempuan yang sebelumnya pernah tinggal di Sulawesi itu. Tapi dari pertemuan tersebut tidak jelas permasalahannya. “Sekalian saya minta dipertemukan dan bawa ke sini. Setelah ke sini, saya tanya salah saya di mana, perlunya apa. Dia tidak jawab, malah nangis,” ungkapnya.
Dia menandaskan, dalam perisitiwa penyiaman cat ke Tugu itu dia sama sekali tidak terlibat. Baik merencanakan maupun di lapangan. Dia juga mengaku kaget saat polisi datang mendatangi rumahnya untuk menanyakan kasus tersebut. “Ngomongnya sama saya, padahal saya tidak tahu apa-apa,” tandasnya.
Terpisah, Kapolresta Jogja Kombes Pol Pri Hartono EL melalui Kasat Reskrim Kompol Dodo Hendro Kusumo menerangkan, perbuatan Yit Kampak Mga yang menumpahkan cat ke badan Tugu masuk dalam kategori tindak pidana ringan (tipiring). Pelaku disebut melanggar Perda Kota Jogja No 7 Tahun 2006 jo Perda No 18 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Kebersihan.
Ditanya mengenai pasal perusakan cagar budaya, perbuatan Yit belum termasuk dalam kategori itu. Dia menerangkan, yang termasuk dalam kategori merusak yakni menatah atau sampai dengan melakukan perobohan bangunan.
Selanjutnya, Polresta akan melaporkan kejadian itu ke Kedutaan Besar Ceko, negara asal pelaku. “Kelanjutannya masih tetap kami komunikasikan dengan pihak terkait,” ujarnya.
Pelaku saat ini telah dibebaskan karena telah mendapatkan jaminan tidak akan melarikan diri dari seorang teman pelaku yang juga seorang seniman. “Kami sudah fasilitasi laporan yang dibuat pemkot dan kami tindaklanjuti. Karena dia mengatakan mau bertemu dengan temannya seorang seniman. Kami sudah bawa ke Kasihan, Bantul, dan sudah bertemu,” ungkapnya.
HB X Maklumi Pelakunya Stres
Dinas Kebudayaan (Disbud) DIJ menerjunkan arkeolog dalam proses pembersihan Tugu Pal Putih setelah disiram cat merah oleh perempuan asal Ceko. Pelibatan arkeolog itu dikarenakan Tugu tersebut termasuk Benda Cagar Budya (BCB).
Kepala Disbud DIJ Umar Priyono mengatakan, sebagai langkah preventif Disbud DIJ menerjunkan arkeolog yang berada di bidang purbakala Disbud. Hal itu dilakukan karena untuk pembersihan secara ditail terhadap Tugu perlu penanganan khusus, supaya tidak terjadi kesalahan untuk fungsi dan estetikanya.
“Lebih baik kami preventif karena untuk penanganan BCB apa pun perlu arkeolog,” ujarnya ketika ditemui usai bertemu Gubernur HB X di Kepatihan, kemarin (6/7).
Umar memastikan proses pengecatan ulang Tugu sudah selesai dilakukan Minggu (5/7) dengan menggunakan cat outdoor. Menurut dia, Disbud DIJ serius dalam upaya pembersihan kembali Tugu. Umar mengaku bukan biaya pengecatan ulang yang dipersoalkan, tapi pihaknya mengharapkan dengan peristiwa itu menjadi pembelajaran bersama untuk ikut menjaga landmark Jogja tersebut. “Seharusnya cukup aman, karena di sana dekat dengan pos polisi,” jelasnya.
Menurut Umar, Tugu yang disiram dengan cat tersebut merupakan peristiwa pertama. Sebelumnya, jelas Umar, biasanya Tugu kotor dengan injakan kaki para pengunjung yang menerobos masuk ke Tugu. Ketika ditanya apakah akan melarang pengunjung foto mendekat ke Tugu, Umar mengaku tidak bisa melarang. “Tidak sampai ada pelarangan foto di Tugu,” ujarnya.
Sedangkan dari kalangan pelaku pariwisata mengharapkan keamanan di kawasan Tugu Jogja ditingkatkan, di antaranya dengan menyediakan spot foto dan melarang pengunjung mendekat ke Tugu. Menurut Ketua Asita Korwil Jawa Edwin Ismedi Himna, keamanan pengunjung di Tugu terabaikan. “Pengunjung harus menyebrang jalan yang ramai, kadang ada juga yang foto di tengah jalan, itu kan berbahaya,” ujarnya.
Mantan Ketua Asita DIJ ini juga meminta jumlah petugas penjaga di kawasan-kawasan heritage, termasuk di kawasan Tugu ditambah. Terutama pada saat liburan panjang, seperti libur Lebaran nanti. “Kalau bayangan saya seperti pecalang di Bali, yang juga turut menjaga keamanan dan kebersihan tempat wisata,” terangnya.
Terpisah, Gubernur HB X ketika ditanya tentang upaya pencegahan supaya kasus serupa tidak terulang, hanya meminta kesadaran masyarakat untuk turut menjaga Tugu. Menurutnya, jika di sekitar Tugu Pal Putih diberi pagar pembatas, malah akan merepotkan. “Kalau dikasih pager malah rekoso, yo gak opo opolah (foto di Tugu, Red),” ungkapnya.
Terhadap pelaku penyiram Tugu itu, HB X mengaku bisa memaklumi karena yang bersangkutan ternyata orang stres. Ia juga belum tahu apakah pelaku sudah dibawa ke psikolog untuk dites kejiwaanya. “Kalau stres, ya dimaklumilah,” ujarnya sambil tertawa.
Sementara untuk penanganan pelaku vandalisme sendiri, saat ini sudah mulai diproses oleh Dinas Ketertiban (Dintib) Kota Jogja. Kepala Seksi Operasional Dintib Kota Jogja Bayu Laksmono mengatakan, pelaku akan disidangkan dengan pasal tindak pidana ringan (tipiring) di Pengadilan Negeri (PN) Jogja, Kamis (9/7).
“Pelaku dikenakan melanggar Perda Kota Jogja No 18/2002 tentang Pengelolaan Kebersihan. Selama pemeriksaan, pelaku tidak kooperatif,” tuturnya. (pra/laz/ong)