SLEMAN – Sidang dugaan penipuan dengan terdakwa Arief Budiono berlanjut, kemarin. Pada sidang ini jaksa menghadirkan tiga saksi yaitu koordinator keluarga ahli waris pemilik tanah Kemetiran Mulyanto Widodo, Wawan dari Bank Mandiri Syariah, dan Agus dari Bank Permata.
Mulyanto mengaku mengenal Muhammad Suryo pada 2013. Kala itu, Suryo mendatanginya dan menyatakan berminat membeli tanah milik keluarganya di Kemetiran senilai Rp 45 miliar. Setelah itu Suryo menyerahkan uang muka sebesar Rp 2,2 miliar sebagai tanda Perjanjian Perikatan Jual Beli (PPJB).
“Tanah yang dibeli ada 5 sertifikat dan masih later C. Perjanjiannya, pelunasan dua minggu setelah sertifikat jadi. Kalau tidak bisa melunasi maka uang muka hilang,” kata Mulyanto pada sidang yang diketuai majelis hakim Rochmad SH.
Saat tiba waktunya pelunasan Suryo ternyata tidak bisa melunasi. Kemudian PPJB dibatalkan dan diganti PPJB atas nama Arief. “Penggantian PPJB ketika akan dilakukan pelunasan,” tambah Mulyanto.
Saat ditanya asal uang pembayaran pelunasan? Mulyanto mengaku tidak mengetahui asal uang tersebut dari mana. Ia pun tidak mengajukan pertanyakan kepada Arief terkait keberadaan Suryo saat pelunasan itu akan dilakukan. “Saya tidak menanyakan kenapa yang melunasi itu terdakwa, kok bukan Suryo,” jelas Mulyanto.
Sedangka Saksi dar Bank Syariah Mandiri, Hari Nova Kurniawan menjelaskan, bank tempat bekerja pernah menerima permohonan pinjaman dari Arief pada Februari 2014. Setelah syarat terpenuhi maka Bank Syariah Mandiri memberikan pinjaman sebesar Rp 20 miliar dengan agunan sertifikat tanah Kemetiran.
Uang Rp 20 miliar ditransfer ke rekening Arief Budiono kemudian diteruskan ke rekening Sugiatman sebagai ahli waris. “Pinjaman di Bank Syariah Mandiri sudah lunas yang melunasi Arief pada 16 Februari 2015 dan yang mengangsur pinjaman juga Arief Budiono,” kata Wawan, sapaan akrab Hari Nova Kurniawan.
Saat Arief menanyakan apakah pencairan terhitung cepat? Wawan menerangkan, pencairan itu normal karena dalam jangka waktu satu bulan. Menurutnya, di bank tempat bekerja hanya ada lima orang yang mendapatkan fasilitas kredit besar. “Salah satunya ialah Arief Budiono,” jelasnya.
Saksi dari Bank Permata, Agus Susanto mengatakan, Desember 2014 terdakwa pernah mengajukan kredit KPR dengan jaminan sertifikat rumah atas nama Muhammad Suryo. Akta jual beli rumah tersebut dilakukan dinotaris dan dihadiri oleh Suryo dan Arief pada 19 Desember 2014.
“Suryo tidak keberatan dan tidak ada catatan. Saat itu jual beli rumah sebagian sudah dibayar dengan uang milik Arief dan sisanya dibayar dengan uang pinjaman,” terang Agus. (mar/din/ong)