GUNTUR AGA TIRTANA/Radar Jogja
DUKUNG KEGIATAN PRAMUKA: Gubernur HB X (tengah) foto bersama dengan jajaran Jawa Pos Group dan pengurus Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka DIJ di Kepatihan, sesaat setelah berlangsungnya audiensi, kemarin (8/7).
JOGJA – Gubernur DIJ Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X menegaskan, Gerakan Pramuka harus banyak melakukan inovasi, sehingga gerakan kepanduan ini tetap bisa diterima oleh semua pihak, utamanya para generasi muda. Pramuka harus menjadi kekuatan atau gerakan membentuk karakter anak di luar pendidikan.
Hal itu ditegaskan HB X saat menerima audinesi jajaran pengurus Kwarda Gerakan Pramuka DIJ dan Jawa Pos Group di Kepatihan, Rabu (8/7). Hadir dalam audiensi, para pengurus Kwarda Gerakan Pramuka DIJ, Pemimpin Redaksi Jawa Pos Nurwahid, Direktur Jawa Pos Radar Jogja Eri Suharyadi, GM Jawa Pos Radar Jogja Berchman Heroe, Pemred Jawa Pos Radar Jogja Joko Suhendro, GM Jawa Pos Radar Solo Ananto, GM DBL Indonesia Masany Audri, dan Senior Manager DBL Indonesia Puji Santosa
Audiensi tersebut terkait penyelenggaraan Indonesia Scouts Challenge (ISC) yang rencananya dihelat pada Oktober 2015 mendatang di Jogjakarta. Event kepramukaan yang kali pertama dihelat di DIJ ini digagas oleh Jawa Pos Group bekerja sama dengan Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka DIJ. “Harapan saya dengan gerakan Pramuka ini bisa menjadi kekuatan di luar pendidikan,” tegasnya.
Karena itu, HB X mendukung penuh terhadap gerakan Pramuka, termasuk agenda diadakannya Indonesia Scouts Challenge. Bagi HB X, ISC yang akan digelar ini merupakan momentum yang pas, dimana kondisi sekarang ini, kasus kriminalitas di Jogja banyak dilakukan oleh usia anak.
“Kondisi itu sangat memprihatinkan. Karena itu, Pramuka harus memjadi kekuatan di luar pendidikan, melengkapi proses ilmuan. Dan hadirnya kegiatan kepramukaan seperti ISC ini menjadi momentum yang pas untuk memperbaiki karakter dan kejiwaan anak,” tandasnya.
HB X mengakui, dalam kegiatan Pramuka, pendidikan karakter diajarkan. Namun dalam catatan HB X, masih perlu banyak inovasi tambahan. Gerakan Kepanduan Pramuka jangan hanya memberikan kemampuan keterampilan, atau hanya menanamkan suka menolong semata, juga harus bisa menunbuhkan empati bagi para anggotanya.
“Dengan keterampilan, serta empati yang dimiliki, anggota Pramuka nantinya menjadi sosok yang hebat. Dia tidak hanya terampil, atau suka menolong, tapi memiliki empati pada sesama. Ini yang menurut saya sangat penting. Harus memiliki empati,” ujarnya
Bagi HB X, rasa empati harus ditumbuhkan sejak masa kecil, sebagaimana yang disebutkan dalam ISC ini nanti yang dilibatkan adalah anak usia sekolah dasar kelas V dan VI. “Kalau empati itu sudah melekat pada diri anak sejak kecil, maka akan muncul generasi penerus yang tidak hanya pintar dengan otaknya, tapi juga pintar dari dalam hatinya, ya memiliki empati terhadap orang lain itu,” lanjutnya mantap.
Lebih jauh, Ketua Majelis Pemimbing Daerah (Mabida) Gerakan Pramuka DIJ ini menilai, keterampilan-keterampilan dasar Pramuka yang diajarkan selama ini, harusnya juga bisa dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan membuat program pelayanan untuk melayani orang-orang yang menderita atau kesusahan di sekitarnya. “Memang empati ini harus diwujudkan, ditumbuhkan dan dibekali dengan keterampilan,” pesannya.
Untuk menumbuhkan empati bagi anak-anak Pramuka tersebut, lanjut HB X, bisa dengan dikenalkan kepada penyandang disabilitas, anak-anak di panti asuhan, pemulung atau warga yang tinggal di bawah jembatan. Para anggota Pramuka tersebut diminta untuk melayani dan membantu mereka. “Bisa tidak membuat program melayani orang yang menderita? Untuk menumbuhkan empati kadang memang perlu dipaksakan,” tantang suami GKR Hemas ini..
Karena itu HB X menyambut baik program Indonesia Scout Chalnege untuk siswa SD yang diadakan Jawa Pos Group. Meskipun begitu, HB X berpesan supaya jangan terlalu banyak materi yang diberikan dalam kegiatan kepramukaan ini, tapi berupaya mengajak para anak menyukai Pramuka.
Menurut HB X, dalam sistem pendidikan saat ini ada kecenderungan memaksakan kehendak ke anak, bukan memberi kebebasan bagi anak. Karena itu saat bergabung dalam Pramuka, diharapkan bisa mengembalikan dunia anak. “Ada kreativitas, jangan semuanya ditentukan oleh orang dewasa, anak boleh menentukan pilihan dunianya,” pesan ayah lima putri ini.
Duakui oleh HB X, dengan melihat kedaaan yang ada pada diri anakj-anak saat ini, dan adanya tuntutan yang lebih baik tersebut, tanggung jawab pembina Pramuka memang berat. “Karena tidak sedikit, anak anak yang dibina, apalagi yang masih usia SD, masih mbok mboken,” tuturnya.
Tapi itulah tantangan yang harus dijawab oleh gerakan Pramuka. Dan karena itu lah, saat ini Pemerintah Provinsi DIJ juga sedang berfikir untuk menyediakan fasilitas kepramukaan, dia antaranya menyiapkan bumi perkemahan yang mampu menampung ribuan anggota pramuka untuk berkemah.
Ditegaskan, pada dasarnya anak-anak Indonesia merupakan komunitas yang suka bermain. Tapi dengan masuknya perangkat game, teknologi, membuat karakter anak Indonesia berubah. “Harapan saya dengan gerakan Pramuka ini bisa menjadi kekuatan yangampuh di luar pendidikan,” tandasnya mengulangi.
Sementara itu perwakilan dari Jawa Pos Grup Masany Audri menjelaskan, event Indonesia Scout Chalnege ini akan kontinyu diselenggarakan setiap tahun. Dirinya juga merespons harapan HB X untuk menunbuhkan empati kepada anak-anak Pramuka, salah satunya dengan menggelar program sosial.
Audri menyebut dalam Indonesia Scout Chalenge akan menampilkan Pramuka yang berbeda. “Nantinya mereka akan memiliki dunia bermain, mengembangkan kreativitas sekalgus empati sosial kemasyarakatan,” katanya. (pra/jko/ong)