BANTUL – Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Non Formal (Dikmenof) Bantul Masharun Ghazali menegaskan, hampir seluruh SMA sederajat memiliki kebijakan sumbangan yang dibebankan kepada orang tua siswa.
“Saya kira malah seluruh sekolah (SD,SMP dan SMA),” terang Masharun di kantornya, kemarin (8/7).
Praktiknya, kebijakan sumbangan berikut besarannya ini dibahas bersama antara dewan sekolah dan wali murid dengan difasilitasi oleh sekolah. Sekolah baru menerima sumbangan setelah ada kepastian siapa yang diterima sebagai siswa.
Setiap sekolah harus menempuh kebijakan ini. Sebab, kebutuhan sekolah dalam setiap tahun memang cukup tinggi. Ini meliputi beragam kebutuhan sekolah yang tidak dikaver oleh pemerintah. Terutama kebutuhan penunjang prestasi siswa. Terlebih, tuntutan prestasi pendidikan di Kabupaten Bantul sangat tinggi. “Tuntutan prestasi tinggi, tapi sarana dan prasarana seperti ini. Nggak nutut (kalau tanpa ada sumbangan),” ujarnya.
Masharun mengklaim hampir seluruh wali murid setuju dan mendukung adanya kebijakan sumbangan. Toh, sumbangan ini juga demi prestasi anak mereka.
Karena itu, Masharun menilai, kebijakan sumbangan di tingkat SD dan SMP lebih patut dipersoalkan jika kebijakan serupa di tingkat SMA sederajat memang dianggap bermasalah. “Program wajib belajar hanya sembilan tahun. Sementara program 12 tahun belajar kan masih rintisan,” ungkapnya.
Konsekuensinya, beragam program yang memberatkan wali murid siswa SD dan SMP harus ditiadakan. Lagipula, SD dan SMP telah mendapatkan prioritas beragam bantuan dari pemerintah.
Terkait kesempatan calon siswa dari keluarga miskin, Masharun menegaskan, Dikmenof memberikan jatah kuota 10 persen bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Bahkan, waktu pendaftaran bagi calon siswa dari keluarga kurang mampu didahulukan. “Tahun ini persentasi siswa dari keluarga kurang mampu mencapai 12 persen. Overload dari kuota semula,” paparnya.
Anggota Komisi D Subchan Nawwawi mengakui hampir seluruh sekolah menerapkan kebijakan sumbangan bagi wali murid. Hanya saja, pada praktiknya tak sedikit yang bersikap tertutup atas detail nilai sumbangan.”Kalau sekolah transparan dan nilainya wajar saya kira orang tua bisa menerimanya,” tambahnya.(zam/din/ong)