RENE Descartes adalah seorang ilmuwan filsafat modern, tokoh filosof yang yang lahir pada tahun 1596 dan wafat pada tahun 1650. Dia memiliki kepribadian yang sangat rendah hati dan tidak pernah menyombongkan diri dengan kemampuannya.
Descartes mengajarkan agar dalam kehidupan menjunjung tinggi keraguan untuk mengungkap kebenaran, jangan mudah percaya. Oleh karena itu pertanyaan “perlukah hidupmu dilanjutkan” adalah bagian dari keraguan yang perlu direnungkan dicari jawabannya dengan rasio, logika dan analisis yang benar.
Bulan Ramadan sangat tepat dijadikan bulan untuk muhasabah, instrospeksi atau refleksi diri agar bisa menjawab pertanyaan di atas. Dengan ekstrem Rene Descartes mengatakan ; “hidup yang tidak tereflesi tidak layak untuk diteruskan“.
Introspeksi diri sangat penting untuk melihat kembali apa yang sudah pernah dialami dan dilakukan pada masa lalu, baik yang positif atau negative. Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT”. (HR. Imam Turmudzi,).
Banyak pemuda-pemudi yang sudah menganggur sejak usia produktif 20 tahun karena tidak melanjutkan sekolah atau kuliah, yang dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari tidak jelas dan tidak penting. Tidak terasa usia sudah 28 tahun menganggur 8 tahun, menikah juga belum dan selama itu tidak ada pertambahan kualitas hidupnya sama sekali.
Bagi yang sudah keluarga juga banyak yang selama beberapa tahun kualitas kehidupan keluarganya tidak ada perubahan, rumah tetap belum punya, usaha, investasi dan tabungan juga tidak ada. Ironisnya sebagian juga tetap tidak melakukan kontrasepsi sehingga ketika semua aspek kualitas keluarganya tidak berubah justru yang berubah/bertambah malah jumlah anak dan beban hidupnya. Kondisi-kondisi seperti ini banyak sekali ditemukan di tengah warga masyarakat, bahkan tidak sedikit yang sudah diberikan bantuan stimulasi permodalan dari pemerintah, akan tetapi belum tentu bisa berkembang akirnya begitu bantuan itu habis maka kembalilah hidupnya seperti sedia kala.
Jika mau mengurai sumber-sumber akar penyebab tidak adanya perubahan kualitas kehidupan, maka setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama ; cara berfikir dan mental model yang kurang optimis, setiap kegagalan selalu dianggap karena kesalahan pihak lain, kurang bisa percaya, selalu curiga, masih adanya sifat iri, dengki, dan tidak ada kemauan untuk membangun kebersamaan di tengah-tengah masyarakat. Kedua ; gaya hidup yang tidak produktif, cenderung malas bekerja, tidak mau berjuang dan berkorban dengan bekerja keras, tidak tekun. Banyak diantara mereka yang masih menggunakan waktu untuk tidur lebih dari 6 jam sehari, waktu untuk santai lebih dari 3 jam sehari dan waktu terbuang tidak terasa lebih dari 4 jam. Waktu yang digunakan untuk bekerja produktif tidak ada 8 jam sehari, artinya tidak lebih dari sepertiga waktu (sehari 24 jam). Jika usia sudah 30 tahun, maka hanya 10 tahun yang digunakan untuk kegiatan produktif, hal ini sangat tidak efisien. Ketiga ; gaya hidup boros banyak terjadi diantara mereka.
Banyak pengeluaran-pengeluaran yang tidak dibutuhkan hanya diinginkan, pengeluaran yang tidak terasa sedikit tapi sering sangat menonjol seperti rokok dan pulsa. Kredit kebutuhan barang mewah seperti kendaraan, hand pone dan barang-barang elektronik juga sangat diminati, sehingga pengeluarannya cenderung boros dan lebih mengikuti hawa nafsu.
Di bulan yang suci ini harus merefleksi diri dan harus berani meragukan hidupnya sendiri, berani membuat pernyataan bahwa gaya hidup yang lama tidak perlu dilanjutkan, dan segera menempuh gaya hidup baru (move on). Ingat bahwa orang yang cerdas adalah mereka yang mampu menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk memperbaiki kehidupan di dunia dan juga untuk persiapan sesudah kematian. (*)