Rizal SN/Radar Jogja
DISKUSI: KH. Salahudin Wahid pengasuh PP Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Katib AM PBNU dan juga dosen UIN Sunan Kalijaga KH. Abd. Malik Madani, dan moderator DR. H. Shofiyullah Muzzamil dalam sarasehan, kemarin (9/7).
SLEMAN – Masih dalam suasana Ramadan, Polda DIJ menggelar acara sarasehan dan silaturahmi Kamtibmas, Kamis (9/7) sore kemarin. Dalam acara yang digelar di Grha Sarina Vidi Jalan Magelang Km 8 itu, hadir beberapa tokoh masyarakat, tokoh agama, perguruan tinggi, dan instansi di DIJ.
Hadir sebagai pemateri sarasehan bertema “Memperkokoh NKRI Menangkal Radikalisme” itu, antara lain KH. Salahudin Wahid pengasuh PP Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Katib AM PBNU dan juga dosen UIN Sunan Kalijaga KH. Abd. Malik Madani, dan moderator DR. H. Shofiyullah Muzzamil.
Dalam sambutannya, DIJ Brigjen Kapolda DIJ Brigjen Pol Erwin Triwanto yang disampaikan Dir Binmas Polda DIJ Kombes Pol Cahyo Budi Siswanto menyebutkan, faham radikalisme sangat bertentangan dengan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebab dengan alasan jihad, menjadi pembenaran untuk melakukan kekerasan. “Karena itu, untuk mencegah faham radikalisme, perlu membentengi dan memperkuat Pancasila UUD 45, NKRI, wawasan kebangsaan Bhineka Tunggal Ika,” katanya. Guna mensosialisasikan semangat antiradikalisme, lanjutnya, perlu sinergi antara pemerintah, ulama dan akademisi.
Sementara itu, Gus Solah mengatakan, radikalisme muncul karena dua sebab, yaitu karena tekanan rezim politik yang berkuasa, dan karena kegagalan sekuler rezim yang berkuasa. Sedangkan ciri radikalisme Islam di Indonesia, kata adik dari KH. Abdurahman Wahid (Gus Dus) ini, antara lain memperjuangkan Islam secara kaffah dalam pengertian menjadikan syariat Islam sebagai hukum negara, mendasarkan praktik keagamaan pada masa lalu (salafi), cenderung memusuhi Barat terutama terhadap sekularisasi, modernisasi dan perlawanan terhadap liberalisme Islam yang tengah berkembang di Indonesia.
“Radikalisme itu dapat berbentuk promosi, yaitu sosialisasi, kampanye, rapat umum, diskusi, penyebaran informasi melalui media atau buku,” terangnya. (cr3/jko/ong)