SLEMAN – Sidang kasus dugaan penipuan dengan terdakwa Arief Budiono semakin menunjukan titik temu. Kali ini, jaksa menghadirkan dua saksi yaitu Andri Kurnianto, tak lain adik Arief Budiono dan Rahmat Iskandar. Dalam sidang, Andri menerangkan, pada 2013 dia bersama kakanya Arief ada kerjasama proyek di Jalan Sudirman dengan Muhammad Suryo.
Belum sampai proyek rampung, Suryo menawarkan proyek lagi yang terletak di Kemetiran, Gedongtengen. Saat itu Suryo mengaku sudah melakukan perikatan jual beli kepada ahli waris Rp 2,2 miliar. Kekurangan pembayaran tanah Kemetiran Rp 43 miliar dari nilai beli Rp 45 miliar. Kala itu Suryo menjanjikan keuntungan investasi tanah Kemetiran tinggi. Pendanaan pun dapat dilakukan dengan menggunakan objek tanah B yang ada di Babarsari.
Setelah berulangkali diskusi, kerjasama pun disepakati dengan membuat perjanjian kerjasama (PK) 09 Tahun 2013. Dalam kerjasama itu tidak disebutkan kolateral. Dana dicarikan bersama-sama dan Suryo sepakat mengurus perijinan hotel dan kondotel. “Setelah PK disepakati, ternyata tanah objek B bermasalah karena ahli waris melakukan gugatan dan proyek objek B berhenti,” kata Andri.
Melihat kondisi tersebut, Suryo pun kebingungan mencari dana untuk pembayaran tanah Kemetiran. Apalagi, pelunasan tanah Kemetiran sudah jatuh tempo. Jika tidak dilunasi maka uang yang sudah dibayarkan kepada ahli waris akan hangus. Melihat situasi tersebut Arief pun mencarikan pinjaman Rp 46 miliar. Sehingga, tanah Kemetiran pun dapat dilunasi dengan uang pinjaman Arief tersebut.”Suryo belum pernah membantu bunga bank. Kami sudah mengeluarkan dana paling besar, eh masih dilaporkan ke polisi,” tambah Andri.
Karena porsi pendanaan lebih banyak Arief maka ia pun menuntut pembagian keuntungan dikaji ulang tapi Suryo menolak. Sebaliknya, Suryo ngotot ingin membeli tanah Kemetiran seharga Rp 13 juta per meter. Mendengar keinginan tersebut Arief keberatan. Arief menawarkan kepada Suryo akan membeli tanah tersebut seharga Rp 20 per meter. “Suryo tetep ngotot ingin membeli tanah tersebut seharga Rp 13 juta per meter. Karena Arief tidak mau, Suryo akhirnya melaporkan Arief ke Polda pada 11 Desember 2014,” paparnya.
Setelah dilaporkan, beberapa hari kemudian Arief ditangkap. Usai penangkapan itu, Suryo kemudian menawarkan perdamaian sesuai draf yang diinginkan. “Draf perdamaian itu semua idenya Suryo. Kami sifatnya pasif,” jelasnya.
Perdamaian pun tercapai. Namun, Suryo masih tidak menerima. Kemudian Suryo kembali melaporkan Arief ke Polda dan akhirnya berakhir di persidangan. “Kami inginnya damai saja. Uang itu bisa dicari tapi tidak dengan kepercayaan. Kami mau berdamai bila kembali pada perjanjian kerjasama 09 Tahun 2013,” pinta Adri.
Rahmat Iskandar mengatakan, Arief mencari pinjaman ke bank dengan agunan tanah Kemetiran. Saat itu masih atas nama ahli waris. Dalam kerjasama itu disepakati bagi hasil dengan porsi Suryo sebanyak 60 persen dan 40 persen untuk Arief. Tapi, karena Arief yang lebih banyak mengeluarkan modal maka ia pun minta bagi hasil dievaluasi. “Sejak saat itu saya tidak tahu progres lebih lanjut,” kata Iskandar. (mar/din/ong)