DWI AGUS/Radar Jogja
Berkembangnya teknologi digital kamera tidak mematikan kamera analog. Pameran bertajuk Kokang Jepret yang berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) pun menjadi buktinya. Puluhan karya foto kamera analog tersaji di ruang pamer hingga 14 Juli besok.
DWI AGUS, Jogja
Puluhan frame ini merupakan karya dari Komunitas Kamera Analog Analogy Jogjakarta. Ketua pameran Alva Christo Y.W mengungkapkan, pameran ini menggunakan kamera lawas. Tentunya kamera analog yang menggunakan roll film sebagai medianya.
“Seiring berkembangnya teknologi di era globalisasi ini, kamera analog dan roll film seluloid sudah mulai diabaikan. Sehingga penggunanya pun semakin sedikit dan selalu berkurang. Padahal berkarya dengan kamera analog sangatlah menantang,” kata Christo (10/7).
Mengusung tema The Future is Analogue, kategori foto-foto yang dipamerkan merupakan Street Photography. Di mana seluruh foto merupakan dokumentasi jalanan. Mengabadikan segala aktivitas yang ditemui oleh para fotografer ini.
Street Photography merupakan kategori yang sangat populer di dalam dunia fotografi. Teknik ini kerap mengambil berbagai objek mulai dari landscape, human interest, arsitektur dan lain sebagainya. Meski terdengar sederhana, teknik ini tetap membutuhkan keahlian khusus.
“Ini karena menggunakan kamera analog yang berbeda dengan kamera digital. Hasil yang kita foto tidak bisa langsung dilihat, karena harus cuci cetak dahulu. Tapi ini adalah tantangannya, senang ketika melihat hasil foto setelah dicetak, harus sabar pastinya,” kata Christo.
Ia menyebutkan banyak sekali fotografer yang mengusung Street Photography. Seperti Vivian Maier, Steve McCurry, bahkan Tompi. Street Photography kebanyakan mengangkat tema Human Interest, Still Life, hingga Daily Life Activities.
Dengan kategori Street Photography, pemotret dituntut untuk peka terhadap lingkungan di sekitarnya. Ini karena dalam aktivitas sehari-hari menemukan aspek-aspek yang tidak lepas dari Street Photography.
Pameran ini pun mengusung misi yang berbeda dan cenderung lebih luas dari pameran sebelumnya. Ingin mengangkat kembali eksistensi kamera analog dengan menunjukkan karya cetak foto. Terutama bagi kalangan muda yang gemar akan dunia fotografi.
“Hasil foto dari kamera analog sangatlah real dan menyimpan banyak makna. Makna yang tidak bisa didapat dari teknologi fotografi instan yang saat ini sedang marak-maraknya. Sangat dianjurkan untuk menggunakan analog untuk belajar fotografi pertama kali,” ungkapnya.
Selain Christo, peserta pameran ini adalah Alwan Brilian D, M. Aditya Haryawan, Sheila N. B, Fitrana Amalia H, Nurrizky Imani dan Romy Kurniawan A. M. Ada pula Kavca Dio S, Faris A. A. F, Indira Dania S, Kartika Amandha, Lila Kirana, Ardha Vashti dan Daffa Dzaky. (dwi/laz/ong)