Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
SLEMAN – Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo dikukuhan sejumlah masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Trah Ki Ageng Giring-Ki Ageng Pemanahan menjadi Sultan Hamengku Buwono XI. Pengukuhan dilangsungkan di Petilasan Keraton Ambarketawang, Gamping Sleman, kemarin (12/7).
Keraton Ambarketawang di masa lalu pernah menjadi pesanggrahan Sultan Hamengku Buwono I usai meneken perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Selama pembangunan fisik Keraton Jogja tengah dikerjakan, HB I untuk sementara waktu tinggal di Ambarketawang. Keraton Ambarketawang lokasinya persis di selatan situs budaya Gunung Gamping. Berjarak kurang lebih 5 km arah barat Kota Jogja.
“Mengukuhkan Gusti Bendoro Pangeran Haryo Prabukusumo menjadi Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping XI (Sewelas) Ing Ngayogyakarta Hadiningrat,” ucap Ketua Paguyuban Trah Ki Ageng Giring-Ki Ageng Pemanahan Satria Djojonegoro saat membacakan surat pengukuhan.
Jalannya upacara pengukuhan Prabukusumo menjadi HB XI berjalan sederhana. Ada 11 orang anggota paguyuban mengenakan busana surjan pranakan, pakaian khas abdi dalem Keraton Jogja. Mereka duduk berjajar rapi di depan tembok bercat merah bertuliskan “Patilasan Kraton Ambarketawang”.
Setelah itu pembawa acara menyampaikan rangkaian upacara. Acara dimulai sekitar pukul 15.55. Selanjutnya, surat pengukuhan nomor 11/KIAG-KIAP/VII/2015 tertanggal 11 Juli 2015 dibacakan.
Pengukuhan itu tanpa dihadiri Prabukusumo. Satria menyatakan, Prabukusumo sengaja tidak diundang. Sebab, pengukuhan murni datang dari masyarakat yang merasa gelisah melihat ontran-ontran di Keraton Jogja.
“Kami ingin melanjutkan tradisi saat Pangeran Mangkubumi dikukuhkan masyarakat sebagai Susuhunan Kabanaran sebelum kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Beliau menjadi sultan karena dukungan rakyat,” ucap Satria yang berasal dari Panggang, Gunungkidul, ini.
Satria menegaskan, pengukuhan Prabukusumo sebagai HB XI itu dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Di antaranya, sejak adanya sabdaraja 30 April 2015 lalu, takhta Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat telah komplang alias kosong.
Itu terjadi karena sultan yang bertakhta tidak bersedia menggunakan nama Hamengku Buwono. Bahkan secara sepihak mengganti namanya menjadi Sultan Hamengku Bawono sekaligus menanggalkan gelar khalifatullah.
Padahal sesuai perjanjian Giyanti, Piagam Kedudukan 19 Agustus 1945, Amanat 5 September 1945, hingga UU No 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIJ, sultan yang bertakhta di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat harus bergelar Sultan Hamengku Buwono.
Menyadari itu, anggota Paguyuban Trah Ki Ageng Giring- Ki Ageng Pemanahan yang berasal dari penderek atau pengikut kedua kakek moyang Kerajaan Mataram itu mengambil inisiatif guna mengatasi keadaan tersebut.
“Kami mendapatkan dawuh dari para leluhur. Kekosongan kekuasaan atau vacuum of power di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat tidak boleh dibiarkan terlalu lama,” lanjutnya.
Di dalam surat pengukuhan itu juga disebutkan, sebelum menjadi HB XI, Prabukusumo lebih dulu dikukuhkan sebagai putra mahkota. Gelarnya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkunegoro Sudibya Raja Putra Narendra Mataram.
Gelar putra mahkota ini resmi digunakan oleh setiap calon raja di Keraton Jogja sejak HB II hingga HB X. Penobatan mirip putri mahkota sebetulnya juga dilakukan Sultan Hamengku Bawono Kasepuluh saat mengeluarkan dawuhraja 5 Mei 2015.
Hanya saja gelarnya berbeda dengan tradisi di Keraton Jogja. Sultan Hamengku Bawono Kasepuluh mengangkat putri sulungnya Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng Ing Mataram.
Di surat pengukuhan juga diterangkan setelah menjadi putra mahkota, Prabukusumo langsung dikukuhkan sebagai HB XI dengan gelar lengkap sebagaimana sultan-sultan sebelumnya.
“Pengukuhan Sultan Hamengku Buwono XI dilaksanakan sesuai dengan angger-angger, budaya, paugeran, dan adat istiadat di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat,” ucap Satria.
Menurut dia, Prabukusumo dikukuhkan karena memenuhi banyak kriteria. Salah satunya dia merupakan putra sulung HB IX dengan garwa dalem KRAy Hastungkoro. “Sebagai putra sulung, maka memenuhi syarat dikukuhkan sebagai sultan,” katanya.
Rencananya surat pengukuhan bakal diserahkan kepada Prabukusumo setelah Idul Fitri. “Kami akan datang ke kediaman HB XI di Jalan Ngadisuryan kompleks Alun-Alun Selatan sekalian silaturahmi dan halal bihalal,” ungkapnya.
Tentang paguyuban yang dipimpinnya, Satria menyatakan sebagian besar adalah trah pengikut Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan. Mereka berasal dari Panggang, Gunungkidul, dan beberapa daerah lainnya.
Di Gunungkidul, Ki Ageng Pemanahan mendapatkan wahyu Keraton Mataram. Tepatnya di Kembang Lampir, Panggang. Gunungkidul menjadi perdikan (daerah otonom) Ki Ageng Giring yang tak lain kakak ipar Ki Ageng Pemanahan.
“Anggota kami juga ada yang dari Wonogiri hingga Desa Tarub, Grobogan, tempat asal-usul kelahiran Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan,” terangnya. (kus/laz/ong)