JOGJA – Raja Keraton Jogja Sultan Hamengku Bawono (HB) X mengaku belum mengetahui adanya pengukuhan adik tirinya, GBPH Prabukusumo, sebagai HB XI oleh Paguyuban Trah Ki Ageng Giring-Ki Ageng Pemanahan. “Aku rung moco Koran (saya belum baca Koran, Red). Yang tanda tangan sopo, yang dikukuhkan sopo? Yang mengukuhkan sopo?,” tanyanya, saat ditemui di kompleks Kepatihan Jogja, kemarin (13/7).
Oleh karena itu, HB X mengaku belum bisa menanggapi langkah selanjutnya, termasuk apakah akan mengambil langkah hukum, karena belum tahu persis kegiatan yang terjadi di Petilasan Ambarketawang, Gamping, Sleman, itu. “Dari mana, sopo kan tidak tahu. Mungkin dia yang lebih tahu dari kita,” ucapnya singkat, sambil tersenyum.
Sementara itu, selain menganggap pengukuhan dirinya sebagai Sultan HB XI tidak sah, GBPH Prabukusumo juga menilai pengukuhan yang dilakukan oleh sekolompok orang yang mengaku sebagai Paguyuban Trah Ki Ageng Giring-Ki Ageng Pemanahan itu sebagai upaya adu domba.
“Wah, itu menyudutkan saya dengan saudara-saudara saya. Saya itu punya kakak-kakak dan adik-adik. Sama saja mengadu domba saya,” tulis Gusti Prabu melalui layanan WhatsApp yang dikirimkan Minggu malam (12/7). Meskipun begitu, Gusti Prabu menolak untuk menyebutkan pihak mana yang memanfaatkan konflik di Keraton Jogja itu.
Ketika ditanya apakah dirinya mengenal Satria Djojonegoro sebagai Ketua Paguyuban Trah Ki Ageng Giring-Ki Ageng Pemanahan, Gusti Prabu juga mengaku tidak yakin. “Saya sendiri kenal atau belum Bpk Satrio Djoyonegoro? Mbok nyuwun fotonipun,” tulisnya.
Meskipun begitu, menurut Ketua KONI DIJ ini, pengukuhan yang dilakukan Paguyuban Trah Ki Ageng Giring-Ki Ageng Pemanahan tersebut tidak sah. Ia membandingkan dengan pengukuhan HB X dulu yang pengangkatannya berdasarkan rapat keluarga putra-putri HB IX didampingi sesepuh Keraton, romo-romo dan ibu-ibu, saudara dari HB IX. “Jadi siapa pun yang menggantikan HB X nanti, juga berdasarkan rapat yang sama,” tambahnya.
Dalam pesan via WhatsApp Gusti Prabu juga menuliskan, karena HB X tidak mempunyai putra mahkota (pangeran pati), jadi HB X tidak berhak mengangkat putra mahkota. “Siapa pun dari kami yang terpilih itu terkait dengan UU Keistimewaan DIJ harus menyesuaikan,” katanya.
Terkait permasalahan ini, Gusti Prabu menjanjikan akan menggelar jumpa pers dalam waktu dekat. Gusti Prabu juga mengungkapkan surat dari 15 orang saudara HB X (12 adik laki-laki dan perempuan serta tiga kakak perempuan), melayangkan surat kepada raja Keraton Jogja itu. “Sehubungan surat telah kami haturkan kepada Bapak Presiden dan cc-nya serta kepada HB X,” tulisnya.
Sebelumnya Pengageng Tepas Dwarapura Keraton Jogja KRT Jatiningrat juga mengatakan tidak tahu soal Paguyuban Trah Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan yang mengukuhkan GBPH Prabukusumo menjadi Sultan HB XI. Menurut dia, untuk pengukuhan raja Keraton Jogja harusnya dilakukan di Bangsal Siti Hinggil, Keraton Jogja. “Tidak benar kalau pengukuhan di luar Keraton, lagi pula Gusti Prabu juga tidak datang,” ungkapnya. (pra/laz/ong)