SLEMAN – Langkah Ketua SUPERPAN Siswanta mendukung raja perempuan di Jogja, semakin bulat. Setelah menebar ratusan poster dan banner bergambar Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mang-kubumi, Siswanta merencanakan membentuk laskar-laskar pen-dukung raja perempuan di seluruh DIY.”Tak lama lagi kami resmikan posko-posko di empat kabupa-ten dan kota,” ungkap Siswanta saat dihubungi kemarin (26/7). Menurutnya, laskar-laskar ter-sebut diberi nama Laskar Pen-dukung Ratu Mangkubumi. Ada sebanyak 1000 laskar yang ditargetkan dibentuk. Pembentukan laskar itu seba-gai bagian dari upaya sosoa-lisasi sabdaraja dan dawuhra-ja yang dikeluarkan Sultan Hamengku Bawono Kasepuluh di Bangsal Sitihinggil, Keraton Jogja, pada 30 April 2015 dan 5 Mei 2015 lalu.Dua perintah raja itu berisi perubahan nama dan gelar sul-tan, serta pengukuhan GKR Pembayun menjadi GKR Mang-kubumi. Gelar lengkapnya GKR Mangkubumi Hamemayu Hay-uning Bawono Langgeng Ing Mataram. Sedangkan sultan dari Hamengku Buwono X men-jadi Hamengku Bawono Kase-puluh.”Kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat DIJ juga ba-nyak yang mendukung sabdar-aja dan dawuhraja. Masyarakat juga tak ada persoalan dengan raja perempuan. Bagi kami, raja perempuan, kenapa tidak?” ucapnya semangat.Setelah membentuk Laskar Ratu Mangkubumi, Siswanta berencana akan menggelar apel siaga di gedung Jogja Expo Cen-ter (JEC). Apel tersebut bakal diselenggarakan antara per-tengahan Agustus hingga awal September mendatang. Momentum yang digunakan adalah peringatan kemerde-kaan RI dan bergabungnya Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat ke NKRI. “Kami ingin momentum itu menjadi spirit perjuangan,” katanya.Terkait munculnya pro dan kontra atas langkahnya mendu-kung sabdaraja itu, Siswanta mengaku tak ada persoalan. Baginya, hal itu menjadi bagian dari dinamika. Sebab, selama munculnya penolakan terhadap sabdaraja, pihaknya juga tak memasalahkan. Karena itu, ia juga berharap sikap SUPERPAN mendukung sabdaraja, dawuhra-ja, dan raja perempuan juga dihormati.Terpisah, kerabat Keraton Jogja GBPH Yudhaningrat kem-bali menyesalkan aksi yang di-galang SUPERPAN tersebut. Aksi tersebut berpotensi meme-cah belah dan mengadu domba antarkerabat keraton. Gusti Yudha, sapaan akrabnya, berharap sebagai orang yang berlatar belakang sarjana aga-ma, Siswanta lebih memahami sejarah Kasultanan Jogja seba-gai kerajaan penerus Dinasti Mataram Islam. “Selama ini Dinasti Mataram tidak pernah mengenal raja perempuan,” tegasnya. (kus/laz/ong)