UGM FOR RADAR JOGJA
SEMANGAT: Sudarmono (paling kanan) bersama kedua orang tuanya. Ia senang bisa diterima di Fakultas Peternakan UGM tanpa tes, mengingat keterbatasan ekonomi keluarganya.

Sudarmono; Semangat Mengejar Pendidikan, Jadikan Kemisikinan sebagai Motivasi

Semangat mengejar pendidikan ada di benak Sudarmono. Meski terlahir dalam situasi ekonomi yang terbatas, tidak menjadikannya menyerah. Bahkan menjadi motivasi bagi dirinya untuk berjuang. Hasilnya, ia diterima di program studi Ilmu dan Industri Peternakan UGM Jogja.
DWI AGUS, Jogja
Wajah gembira bercampur tak percaya terus diperlihatkan oleh Wagiman. Pria berusia 65 tahun ini seakan tak percaya anak bungsunya, Sudarmono, dapat melanjutkan jenjang pendidikan perguruan tinggi. Terlebih sang anak diterima di Fakultas Peternakan UGM.
Bagi pria yang berprofesi sebagai pengayuh becak, kabar ini merupakan anugerah. Apalagi sang anak berjuang sendiri untuk meneruskan pendidikan perguruan tingginya. Ucapan syukur berkali-kali keluar dari mulutnya mengetahui berita gembira itu.
Bahkan tidak pernah terlintas dalam pikirannya sang anak bisa melanjutkan kuliah. Ini karena Sudarmono lahir di tengah kondisi keluarga yang serba kekurangan. Meski begitu, kabar ini turut menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus bekerja.
“Saya baru tahu kalau Sudarmono ikut daftar seleksi masuk UGM saat dia mau berangkat tes minta doa restu. Lalu dikabari lagi kalau diterima. Saya kaget sekaligus bersyukur,” katanya.
Sudarmono mengaku telah berkeinginan bisa kuliah sejak di bangku SD. Namun ia tidak pernah memaksakan keinginannya itu ke kedua orang tuanya. Ia sangat maklum dengan keadaan ekonomi keluarganya yang sangat pas-pasan.
Terlebih ayahnya harus bekerja membanting tulang untuk menghidupi lima anaknya. Keempat kakaknya pun hanya bisa mengenyam pendidikan hingga tingkat SMA. Selepas itu, kakak-kakaknya memutuskan untuk langsung bekerja demi meringankan beban keluarga.
Tidak patah arang, kondisi ini membuat remaja kelahiran Klaten, 24 agustus 1997, ini semakin bersemangat. Terutama untuk melanjutkan pendidikan hingga ke bangku perguruan tinggi. Apalagi keinginan itu telah menjadi impiannya sejak kecil.
“Saya percaya bahwa mimpi itu dapat terwujud menjadi kenyataan. Sehingga saya memang tidak malu untuk bermimpi setinggi-tingginya. Mimpi saya menjadi seorang pengusaha dan meraih pendidikan,” ungkap alumnus SMA 1 Bayat, Klaten, ini.
Perjuangan, kerja keras, dan usahanya pun berbuah manis. Terbukti sejak duduk di bangku SD hingga SMP, ia selalu masuk dalam rangking lima besar. Bahkan saat melanjutkan bangku pendidikan SMA, dirinya kerap meraih juara pertama selama tiga tahun terakhir.
Inilah pembuktian yang ingin ditegakkan oleh Sudarmono. Baginya, prestasi akademik dapat diraih meski dalam kondisi ekonomi yang terpuruk sekalipun. Justru dapat menjadi motovasi untuk terus berpretasi. “Waktu kelas 1 SMA sempat ikut OSN Fisika dan kelas 2 SMA ikut OSN Kimia di tingkat kabupaten,” tuturnya.
Tidak hanya berprestasi secara akademik, Sudarmono juga aktif dalam sejumlah kegiatan di sekolahnya. Demikian halnya di kampung halamannya juga mengikuti sejumlah kegiatan kepemudaan. Meskipun memiliki seabrek ativitas di sekolahnya, Sudarmono tetap menyempatkan diri untuk membantu ibunya menggembala kambing piaraan mereka.
“Sering bantu angon kambing di sawah. Hal ini juga yang mendasari keputusan saya untuk ambil kuliah di Fakultas Peternakan karena memang sejak kecil sudah sangat dekat dengan dunia peternakan. Ingin jadi pengusaha bidang peternakan,” ujarnya.
Sehari-hari Wagiman kerap mengayuh becak tuanya di sekitaran Pakualaman, Jogja. Sedangkan istrinya, Mursiyem (55) menjadi buruh tani di Mranggen, Bayat, Klaten. Selain itu Mursiyem juga berprosesi sebagai buruh pemintal benang untuk membantu menopang ekonomi keluarga.
Setiap hari Wagiman memperoleh uang Rp. 20.000 hingga Rp. 30.000,- saat mengayuh becak. Setiap akhir pekan dirinya selalu pulang menemui anak isterinya yang tinggal di Mranggen. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang dibangun dari bantuan dana pemerintah.
“Rumah di sana sebelumnya sempat rata dengan tanah akibat gempa Jogja 2006. Mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk membangun rumah,” ungkapnya.
Sementara saat di Jogja, Wagiman menumpang tidur di Masjid Margoyasan sekitar Lapas Wirogunan. Dirinya mengaku telah mengayuh becak sejak tahun 1992. Di tahun yang sama pula dirinya aktif membantu mengurus masjid.
Ia juga dipercaya menjadi takmir dan diberikan sebuah ruang kecil untuk melepas penat di malam hari. “Saya selalu mendukung apa yang menjadi keinginan thole. Kami akan upayakan, bagaimana caranya agar bisa kuliah,” tuturnya.
Persaan gembira turut dirasakan Mursiyem (50). Perempuan tua ini tidak menyangka keinginan anaknya untuk kuliah bisa tercapai. Sementara kekhawatiran tidak bisa membayar biaya kuliah hingga selesai, masih membayang di pelupuk matanya.
Mursiyem pun tetap berdoa agar kelak anaknya bisa lancar dalam menjalankan studi. Lebih dari itu, bisa bernasib lebih baik dari kedua orang tuanya. Serta menjadi orang sukses dan mampu mengangkat derajat keluarga.
“Anak pingin sekali kuliah, tapi bagaimana kondisinya saja seperti ini. Bersyukur sekali akhirnya bisa dapat beasiswa kuliah gratis,” katanya, sembari terisak menahan haru. (laz/ong)