GUNUNGKIDUL – Imbauan jangan merantau dari Bupati Gunungkidul Badingah tidak di-hiraukan masyarakat. Pasalnya, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsos-nakertrans) setempat mencatat, kebanyakan pemudik ketika balik membawa sanak saudara-nya pergi merantau.”Kami perkirakan, pada musim balik sekarang ini ada 25 persen pemudik yang membawa sanak saudara merantau,” kata Kepala Dinsos-nakertrans Gunungkidul Dwi Warna Widi Nugraha belum lama ini.Dia menjelaskan, data angka tersebut diper-oleh dari pengamatan langsung di lapangan. Ditemukan fakta, kebanyakan pemudik membawa kerabat pergi merantau untuk mengubah nasib. “Bagi kami, merantau itu tidak masalah. Dengan catatan, mereka bekerja di tempat yang jelas. Jangan untung-untungan mencari pekerjaan,” ujarnya.Dwi yakin para perantau sudah cerdas dalam menganalisa dan membaca peluang kerja. Kecil kemungkinan, mereka yang akan me-ninggalkan kampung halaman dengan niat memperbaiki status ekonomi namun tidak memiliki bekal atau tujuan pasti.”Karena berdasarkan pantauan, mudik empat orang, saat balik mengajak lebih dari satu orang untuk ikut,” terangnya.Apakah fenomena urbanisasi bisa dikaitkan dengan sedikit banyaknya pemohon Kartu Tanda Bukti Pendaftaran Pencari Kerja (AK 1) atau dikenal dengan sebutan kartu kuning? Dwi menampiknya. “Sekarang ada sejumlah perusahaan tidak mewajibkan kartu kuning pada saat melamar pekerjaan. Sehingga, kartu kuning tidak bisa lagi menjadi alat ukur berapa jumlah orang mencari kerja,” jelasnya.Berdasarkan laporan, pencari kartu kuning tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Padahal saat cuti bersama Dinsos-nakertrans membuka loket pencari kartu kuning namun tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. “Waktu cuti bersama itu kami tetap buka, tetapi hanya ada satu orang yang mencari, dan setelah lebaran hanya sekitar 20 sampai 30 orang, jumlah itu sama dengan hari biasa,” bebernya. Kepala Seksi Penyediaan dan Penempatan Tenaga Kerja Disosnakertrans Gunungkidul Eko Budiyono, membenarkan ada permohon-an kartu kuning dengan tujuan ke wilayah Jabodetabek. “Ada beberapa yang diajak sanak saudara merantau ke kota besar,” tandas Eko. (gun/jko/ong)