SETIAKY A.KUSUMA/RADAR JOGJA
JADI FAVORIT WISATAWAN: Para wisatawan manca negara saat melintasi Alun-Alun Utara (Altar) Jogja, kemarin (27/7). Gubernur DIJ berharap revitalisasi Alun-Alun Utara rampung sebelum 17 Agustus. Seiring dengan hal itu, Altar bersih dari parkir dan aktivitas pedagang kaki lima.
JOGJA – Keseriusan Pemkot Jogja dalam menata kawasan ALun-Alun Utara (Altar) Jogja patut dipertanyakan. Hingga Senin (27/7) atau H+9 Idul Fitri, ternyata masih terdapat parkir kendaraan maupun akti-vitas pedagang kaki lima (PKL) yang ber-jualan di atas Altar. Padahal sesuai kom-pensasi yang diberikan Raja Keraton Jogja, hanya sampai H+7 Lebaran.Kepala Dinas Ketertiban (Dintib) Kota Jogja Nurwidi Hartana mengatakan, pe-nertiban Altar baru akan dilakukan besok (29/7). “Yang jelas, Rabu (besok) sudah harus bersih,” ujarnya kemarin (27/7).Saat ini pihaknya masih melakukan per-siapan dengan melibatkan lintas instansi. Sebab, dalam melakukan penertiban di Altar, tidak bisa dilakukan sendiri, harus melibatkan berbagai pihak. Nurwidi menjelaskan, meski baru akan dilakukan penegakan besok, sejak kemarin (27/7) pihaknya sudah menyampaikan surat ke berbagai pihak di Altar, termasuk komunitas parkir maupun PKL. Dirinya menegaskan, di dalam Altar harus bebas dari kegiatan parkir maupun PKL. “Kami berpengang keseakatan bersama Pemkot Jogja, Pemprov DIJ dan Keraton, kalau Alun-alun Utara harus bebas aprkir,” ujarnya.
Di bagian lain, pelaku ekonomi di kawasan Altar yang menamakan dirinya Peta Altar, menegaskan akan tetap membuka parkir maupun berjualan di Altar. Menurut Ketua Peta Altar Praptono, mereka akan tetap membuka parkir dan berjualan di Altar sampai kapan pun. Praptono menegaskan, Peta Altar yang ter-diri berbagai komunitas di Altar tersebut, nekat membuka parkir dan berjualan di Altar karena perekonomiam Altar mati sejak revi-talisasi Altar dimulai. “Sejak revitaliasi itu kan perekonomian di Altar mati, otomatis teman-teman tidak ada aktivitas,” terangnya.Selain itu dalam proses revitalisasi juga belum mengakomodir semua pihak. Di-rinya mencontohkan lapak PKL yang hanya disediakan 200, padahal PKL yang ada di Altar mencapai 500 lebih. Selain itu, konsep revitalisasi, yang memindahkan parkir di Ngabean, dianggap juga akan mematikan ekonomi Altar. “Kalau di sini (Altar) sepi, tidak ada aktivitas, sama juga bohong, ka-lau tidak ada pengunjung siapa yang mau beli,” ujarnya.
Peta Altar berharap parkir Altar bisa di-buka kembali seperti dulu. Praptono mengaku selama ini tidak pernah diajak dalam so-sialisasi penataan Altar. Pihaknya mengaku siap untuk diajak berdialog terkait pena-taan Altar. “Kemarin kami sudah minta Dewan (DPRD DIJ) untuk memfasilitasi, nanti katanya akan dijadwalkan,” ujarnya.Sebelumnya Ketua Koperasi Forum Komu-nikasi Kawasan Alun-alun Utara (FKKAU) Muhammad Fuad mengatakan untuk men-ghidupkan kembali perekonomian di Altar butuh peran serta semua pihak, termasuk Pemkot Jogja. Tapi sebelumnya Pemkot Jogja diminta untuk tegas dalam mene-rapkan aturan. “Kalau semua keteraturan dijalankan semua tentu bisa sesuai peren-canaan,” ungkapnya. (pra/mg2/jko/ong)

Sebelum 17-an, Revitalisasi Harus Sudah Tuntas

PADA bagian lain, Gubernur DIJ me-minta proses revitalisasi Alun-Alun Utara (Altar) Jogja sudah bisa diselesaikan sebelum pertengahan Agustus 2015 nanti. Untuk itu, setelah Lebaran ini proses revitalisasi diminta lebih dioptimalkan.Hal itu mengemuka dalam Fokus Group Discussion (FGD) yang digelar oleh Wakil Ketua DPD RI GKR Hemas dengan berbagai pelaku ekonomi dan wisata di Alun-Alun Utara Jogja akhir pekan lalu. “Pak Gubernur memberikan deadline sebelum 17-an (17 Agustus 2015) penataan harus sudah selesai. Sebenarnya itu yang ditagih Bu Ratu (GKR Hemas) kemarin,” ujar Kepala Badan Peren-canaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIJ Tavip Agus Rayanto, kemarin (27/7).Menurut Tavip, sebenarnya dalam penataan Altar tidak mengalami banyak perubahan dari konsep semula. Tapi, proses penataan Altar perlu dipercepat, terlebih selama libur Lebaran kemarin, Altar kembali digunakan sebagai tempat parkir dan berjaulan PKL, yang membuat terlihat kumuh. “Khusus Alun-Alun Utara mendesak, karena sudah mulai kumuh lagi,” tandasnya.Diakuinya, untuk penataan Altar bukan perkara mudah, karena juga harus diinte-grasikan dengan penataan Malioboro dan Ngabean. Terutama terkait dengan penga-turan lalu lintas dan parkir. “Termasuk pe-mindahan pedagang di sisi barat dan timur yang juga perlu segera diselesaikan,” ujarnya.Kepala Dinas Pekerjaan Umum Energi dan Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIJ Rani Sjamjinarsi menjelaskan, sebagaian infrastruktur yang sudah selesai dibangun di kawasan Altar, bisa segera dimanfaatkan. Diantaranya gerobak semi permanen untuk PKL, sebanyak 90 unit yang sudah selesai pembuatanya. “Sesuai harapan Ngarso Da-lem, sebagian infrastruktur yang sudah se-lesai bisa segera dimanfaatkan, sehingga masyarakat tahu ada progresnya,” jelas Rani.Meski diakuinya, untuk pembangunan infrastruktur di Altar belum selesai se-penuhnya. Salah satunya, untuk urusan kebudayaan, yaitu rehab bangunan yang termasuk Banda Cagar Budaya, Pekapalan yang berada di sebelah barat Altar, masih dalam proses pengerjaan. Menurut Rani, masih digunakannya Altar sebagai tempat parkir dan berjualan PKL, disebabkan koordinasi yang kurang. Dalam waktu dekat, akan dilakukan integrasi ko-ordinasi, sehingga semua pihak sejalan sesuai dengan fungsi masing-masing. Rani menambahkan, sebenarnya sudah diben-tuk tim percepatan untuk penataan di enam kawasan cagar budaya, yaitu Keraton Jogja, Pura Pakualam, Malioboro. Kotagede, Ko-tabaru, dan Makam Imogori. (pra/jko/ong)