LIA Karina Mansur memang terlihat garang saat memakai dobok (baju seragam taekwondo). Siapa pun lawan yang dihadapi, sepertinya tidak ada kata menyerah, apalagi grogi. Rupanya, taekwondoin andalan Jogjakarta ini akhirnya merasakan grogi juga. Tapi bukan saat bertan-ding, saat belajar main ketoprak.Atlet nasional peraih emas di PON Riau 2012 lalu ini, tak hanya berkiprah di bidang olahraga. Tahun ini, dirinya mengikuti ajang bakat Dimas Diajeng Kota Jogja. Berkat prestasi, bakat dan kemampuan yang dimiliki, Lia juga menjadi runner up atau Wakil 1 Diajeng Kota Jogja.”Kalau selama ini bergaulnya dengan sesama atlet dan orang-orang di bidang olahraga, tapi lewat Dimas Diajeng aku bisa menegenal orang dari berbagai bidang, “ujar atlet yang sedang mem-persiapkan diri mengikuti Pra PON 2015 ini.
Selain menambah pengalaman, teman dan memperluas jaringan.Lewat ajang ini, ia bisa be-lajar sesuatu yang baru. Jika tubuhnya sudah sangat fasih akan teknik dan gerakan taekwondo, saat proses Dimas Diajeng berlangsung dirinya harus meluweskan diri belajar nari dan main ke-toprak. “Susah banget, karena nari kan harus luwes, gerakan di ketoprak juga. Padahal badanku kan kaku banget,” ujar wanita 24 tahun ini.Meski begitu, dirinya senang bisa mengenal sesuatu yang baru. Karena selama ini dirinya hanya terbatas di olahraga, namun kini dirinya bisa lebih mengenal tentang seni, budaya dan pariwisata. “Tapi fokusku tetap latihan taekwondo, karena persiapan menjelang Pra PON. Sehingga, aku harus bagi waktu antara kegiatan Dimas Diajeng dan latihan,” pungkas Lia.(dya/jko/ong)